Berawal dari Kakak Tertua, Keluarga Besar Ini Mantap Mualaf

Liputan Khas Ramadan 1446 Hijriah (17)

mualaf
MUALAF: Bupati Kotim Halikinnor menuntun warganya yang mantap memeluk Islam, beberapa waktu lalu.

Islam menjadi pilihan satu keluarga besar di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dengan penuh kemantapan hati, mereka menerima hidayah Ilahi.

RADO, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Tahun 2024 lalu menjadi momentum paling berkesan bagi Gahara Ramadan (44). Keluarga besarnya mengikuti jejaknya untuk memeluk Islam. Momen sakral itu disaksikan langsung Bupati Kotim Halikinnor.

Gahara menuturkan, keluarga besarnya mantap menjadi mualaf berawal dari dirinya. Padahal, awalnya dia tak pernah terpikir masuk Islam.

Apalagi kedua orang tuanya merupakan rohaniawan ternama di salah satu agama di wilayahnya. Segala praktik agama dikuasainya secara luas.

Gahara mulai mengenal Islam lebih dalam sejak lulus SMP swasta di Kota Sampit sekitar tahun 1998. Dia memutuskan melanjutkan pendidikan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Menginjak bangku SMA inilah dia mulai tertarik dengan Islam.

”Kala itu saya belum terlalu jauh mengetahui, namun ada rasa hati tertarik untuk mengenal lebih dalam dan lebih jauh. Mungkin di situlah yang namanya hidayah,” kata Gahara.

Menurut Gahara, dirinya yang saat itu masih remaja, menilai ajaran Islam yang dia baca dari beberapa buku merupakan hal yang logis dan bisa dinalar. Dia akhirnya memutuskan dan meminta izin kedua orang tuanya untuk pindah keyakinan.

Keputusan itu awalnya tak mudah, mengingat dia dibesarkan di lingkungan berbasis non-Islam. ”Tetapi, orang tua saya tidak mempermasalahkan, karena mereka mengatakan agama atau kepercayaan adalah pilihan hidup masing-masing individu,” ujarnya.

Setelah resmi mualaf di Surabaya, Gahara mengubah identitas kependudukannya menjadi beragama Islam. Dia berupaya menjalani ajaran agama barunya seorang diri.

”Saya awalnya salat itu belajar sendiri dan seingat saya, punya buku kecil untuk menuntut saya belajar. Selain juga belajar dengan teman-teman lainnya,” kata Gahara.

Seiring waktu, Gahara pun akhirnya bisa beribadah dengan baik hingga belajar melafalkan Alquran.

Gahara kemudian menceritakan pengalaman spiritualnya masuk Islam kepada adik kandungnya.

”Kebetulan saya anak pertama dan saya menceritakan apa yang saya rasakan kepada adik saya nomor tiga. Saya tidak menyangka juga reaksinya yang kala itu mengikuti jejak saya masuk Islam juga,” ujar Gahara.

Gahara menuturkan, dalam keluarga besarnya, sangat menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi keberagaman. Meski ada yang tak satu keyakinan, pihaknya berupaya tetap menjaga hubungan kekeluargaan.

”Kami masih menjunjung tinggi keberagaman dalam keluarga. Jadi, beda agama bukan artinya memutuskan hubungan silaturahmi dan keluarga,” tegas Gahara.

Lebih lanjut Gahara mengatakan, orang tuanya juga mengikuti jejaknya tahun lalu. Dia dihubungi orang tuanya yang meminta difasilitasi masuk Islam.

”Tiba-tiba ditelepon adik saya, bahwa kedua orang tua kami waktu itu punya niat masuk Islam. Langsung kami respons dan langsung dilaksanakan. Disaksikan Pak Bupati Halikinnor di rumah jabatan,” kata Gahara.

Menurut Gahara, Ramadan tahun ini merupakan pertama kalinya bagi orang tuanya berpuasa. Hal itu penuh tantangan. Apalagi dalam kondisi sudah lanjut usia, di atas 60 tahun.

Pada awal Ramadan, dia mengajak kedua orang tuanya berpuasa. ”Apa pun yang namanya masih pertama kali, tentu kurang enak,” ujarnya.

Dengan kondisi fisik yang tidak muda lagi, orang tuanya masih tetap berniat puasa, meskipun dalam pelaksanaannya terkadang ada hambatan hingga tak tuntas sehari penuh.

”Setidaknya mereka sudah menjalankan puasa dengan niat ibadah. Kami sebagai anak-anaknya bangga,” ujar Gahara. (***/ign)

Pos terkait