Sulitnya mendapatkan minyak goreng murah telah lama melanda Kabupaten Kotawaringin Barat. Dari kota hingga desa merasakan dampaknya. Bahkan untuk mendapatkan minyak goreng, para ibu rumah tangga rela mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan jatah minyak goreng murah
KOKO SULISTYO, Pangkalan Bun
Bermula dari mahal dan sulitnya mendapatkan minyak goreng memotivasi para ibu rumah tangga di Desa Sebuai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat untuk beraksi. Mereka memanfaatkan hasil alam kawasan pesisir yang kaya akan tanaman kelapa.
Buah kelapa tersebut diolah untuk menghasilkan minyak kelapa. Dengan teknologi sederhana mereka mendapatkan produk minyak goreng yang dinilai lebih sehat.
Seperti yang dilakukan Erlyana (38), ia kembali membuat minyak kelapa secara konvensional. Keahlian menghasilkan minyak kelapa sudah diperolehnya secara turun temurun. Meski belum mampu menghasilkan minyak secara besar-besaran, namun usahanya mampu mengurangi ketergantungan dengan minyak goreng dari kelapa sawit.
“Kelangkaan minyak goreng memicu gejolak di masyarakat, mereka panik sehingga muncul kekhawatiran mereka tidak bisa lagi menggoreng untuk kebutuhan lauk pauk keluarganya karena tidak memiliki minyak goreng,” ujarnya.
Proses membuat minyak kelapa tersebut dimulai dengan mengupas sabut kelapa yang sudah dipanen dari pohonnya. Sabut dipisahkan dari tempurung kelapa, proses dilanjutkan dengan melepas tempurung kelapa dan menyisakan daging buah kelapa.
Untuk melepaskan tempurung dan daging kelapa, ia membuat sendiri alat pemecahnya sehingga daging kelapa tetap bulat utuh.
Setelah proses awal selesai, dilanjutkan dengan memarut daging buah kelapa dengan menggunakan mesin parut untuk menghasilkan serbuk kelapa. “Tempurung kelapanya tidak kita buang, nantinya akan kita gunakan sebagai bahan bakar saat proses pembuatan minyak kelapanya, yaitu untuk merebus santan atau sari kelapa,” terangnya.
Untuk menghasilkan satu botol minyak kelapa, dibutuhkan sekitar delapan sampai sepuluh buah dan tergantung besar kelapa yang tersedia.
Diakuinya untuk memproduksi minyak kelapa membutuhkan waktu satu hari penuh. Karena harus melalui proses pengendapan untuk memisahkan air dengan minyak. Namun agar menghasilkan minyak berkualitas dan irit bahan bahan bakar, sebelum proses perebusan harus diendapkan selama satu malam. Sedangkan proses perebusan santan membutuhkan waktu selama tiga jam dengan api kecil.
Jika dibandingkan dengan minyak goreng pada umumnya yang berwarna kuning keemasan, minyak kelapa hasil produksi rumahan ini berwarna kuning pucat atau kuning pudar, kelebihannya tanpa pengawet dan tidak rendah kolesterol.
Saat ini banyak warga yang berebut membeli minyak goreng olahannya. Namun, mereka harus bersabar karena prosesnya membutuhkan waktu lebih lama. “Alhamdulillah warga dekat rumah dan keluarga saya tidak lagi bingung mencari minyak goreng,” tutupnya (*/sla)








