Debit Banjir Pangkalan Bun Mulai Surut, Optimis Banjir Segera Berakhir

banjir mulai surut 3
MULAI SURUT: Meski debit air menurun namun Jalan Pangeran Antasari, tepatnya di depan Makodim 1014/PBN masih terendam banjir, Sabtu (29/10) (Sulistyo/Radar Sampit)

PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Debit Sungai Arut mengalami penurunan, meski tidak signifikan kondisi tersebut sedikit memunculkan harapan bencana banjir akan segera berlalu.

Meski terjadi penurunan sejak tiga hari terakhir, secara keseluruhan ribuan rumah-rumah warga di wilayah terdampak masih terendam.

Bacaan Lainnya

Penurunan debit air diketahui dari bekas genangan air di dinding rumah, menurut mereka penurunan air berkisar antara 5 centimeter sampai 10 centimeter.

Dari pantauan di beberapa titik banjir Jalan Ahmad Yani, Pangeran Antasari, GM Arsyad yang merupakan jalan utama di Kota Pangkalan Bun masih terendam air luapan Sungai Arut.

Salah seorang warga Kelurahan Baru, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kotawaringin Barat, Indra menyampaikan penurunan debit air terjadi sejak tiga hari terakhir dan ada ruas jalan yang semula terendam saat ini juga sudah terlihat aspalnya.

Baca Juga :  Antar Bantuan Bahan Pokok, Wabup Kotim: Sebelumnya Banjir Tidak Pernah Separah Ini

“Tapi kalau melihat di permukiman masih dalam, kalau penurunan baru 10 centimeter tidak berpengaruh, semua masih terendam karena rata-rata rumah yang kebanjiran ketinggian hingga ada yang lebih dari 1 meter,” ujarnya.

Ia berharap, meski sedikit demi sedikit menurun banjir segera berakhir, dan intensitas hujan semakin berkurang, karena bila tertimpa hujan lebat dengan durasi waktu yang lama maka dipastikan banjir akan semakin parah.

Menurutnya mengingat bahwa Sungai Arut merupakan anak sungai Lamandau dan saat ini di hulu Sungai Lamandau sudah menurun maka luapan sungai Arut sudah tidak separah sebelumnya.

“Semoga pasang laut segera berakhir, sehingga air Sungai Lamandau dan Sungai Arut segera mengalir ke muara laut,” ungkapnya.

Disebutkannya, bila banjir berlangsung dalam waktu lama maka dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan masyarakat, selain itu jugan menyulitkan pemerintah provinsi dan daerah terkait distribusi bantuan.

Pos terkait