RadarSampit.com – Merelakan cita-cita yang diimpikan menjadi keputusan berat yang harus diambil Desy Herlina Sari. Siapa sangka keputusan itu mengubah segalanya, meski menjadi pegawai tetap di salah satu bank pelat merah harus direlakan, bersama saudarinya, Desy mampu membangun bisnis fashion lewat Toko Serba Harga Murah di tiga kota, Sampit, Palangka Raya dan Pangkalan Bun.
SEPEDA motor yang ditunggangi terus digeber Desy. Tiga puluh menit sudah, wanita peraih cumlaude lulusan STIE Sampit tahun 2016 itu melaju di jalanan beraspal. Sebuah rumah berwarna putih tepat di sisi jalan negara menghentikan laju motornya. Perbincangan singkat terjadi antar Desy dan seorang pria setengah tua yang sudah menunggu di depan rumah. Kamera ponsel dikeluarkan dari dalam tas yang dipanggulnya. Rumah beserta sebuah mobil kemudian difotonya.
“Seperti itulah saya. Mending kalo yang disurvei dekat-dekat sini saja, tapi kalau sudah jauh itu yang memerlukan waktu dan energi banyak,” ungkap Desy mengawali ceritanya.
Sebelum fokus mengelola Toko Serba Murah Girls (SHMG) Sampit, selama setahun direntang tahun 2017, Desy bekerja sebagai karyawati bank pelat merah di Kota Sampit. Menempati bagian kredit, tak heran, Desy tidak full berada di dalam ruangan ber-AC. Terkadang harus ke lapangan sebagai survei calon kreditur.

Berstatus karyawati bank, Desy tidak melepas usaha yang sudah dikelolanya bersama saudarinya. Toko Baju Serba 50 Ribu Sampit (Sebelum berganti nama menjadi Serba Harga Murah Girls Sampit) di Jalan TarTar tetap dijalankannya. Sore hari setelah pulang dari bekerja di bank, Desy tidak langsung beristirahat pulang ke rumah. Desy kembali harus melayani pembeli di tokonya hingga menjelang malam.
“Pernah saking capeknya, pulang dari toko jam 11 malam pas sampai rumah langsung ketiduran. Tau-taunya pas bangun sudah pagi. Aktivitas seperti itu rutin saya lakukan. Pagi sebagai karyawan bank, malamnya mengelola toko,” ucap Desy mengenang masa-masa berat perjalanan hidupnya.
Perjuangan mengelola toko tidak hanya sekadar melayani pembeli, Desy juga harus mengambil sendiri barang orderan di gudang ekspedisi tanpa menunggu diantar jasa kurir. Menggunakan sepeda motor kesayanganya, Desy menerobos dinginnya malam demi memanjakan calon pembeli. Bukan perkara mudah membawa barang yang dipesan. Dibungkus karung plastik berwarna putih untuk satu koli orderan terkadang desi malam itu juga harus bolak balik dari toko menuju gudang ekspedisi.
Kerja keras yang terus menerus dijalankan menjadikan Desy tumbuh menjadi wanita dengan semangat tinggi dalam menjalani hidup. Bahkan semasa kuliah Desy merelakan masa mudanya tidak berjalan seperti mahasiswi lazimnya. Selepas kuliah, bukan kongkow bersama teman satu gengnya, justru Desy memilih mengurus toko fashionnya.
“Awalnya berat, tapi setelah dijalani dan sudah tau ritmenya kita easy going. Dari kuliah sampai lulus dan bekerja di bank tetap dijalankan bersama-sama. Yang penting selama didukung penuh keluarga dan ikhlas saya percaya akan menghasilkan yang baik juga,” ungkap Desy.
Desy mengaku baru dihadapkan pada pilihan berat, saat dirinya diterima sebagai pegawai tetap di bank tempatnya bekerja. Memiliki pekerjaan yang diimpikannya sejak lama tentu senang bisa lolos seleksi karyawan tetap di bank pelat merah. Apalagi proses itu dijalani dari bawah dan berproses bertahun-tahun. Justru yang membuatnya bimbang soal penempatan kerja. Desy ditempatkan di area Palangka Raya.







