Elite Politik Kalteng Ramai-Ramai Loncat Partai, Praktik Buruk Politik Indonesia

Peta politik Kalimantan Tengah menjelang Pemilu 2014 diwarnai sejumlah tokoh dan elite politik yang ramai-ramai loncat partai
Ilustrasi. (M Faisal/Radar Sampit)

PALANGKA RAYA – Peta politik Kalimantan Tengah menjelang Pemilu 2014, diwarnai sejumlah tokoh dan elite politik yang ramai-ramai loncat partai. Sejumlah tokoh yang sebelumnya merupakan pentolan partai besar tersebut, memilih Demokrat untuk menghadapi pesta demokrasi yang akan berlangsung dua tahun lagi.

Hal itu terungkap saat Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melantik pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Kalteng periode 2021-2026 secara virtual, Jumat (28/1). Dalam susunan kepengurusan, terdapat nama-nama besar yang selama ini kerap menghiasi pemberitaan media massa.

Bacaan Lainnya

Mereka di antaranya, Jhon Krisli (NasDem), Ferry Lesa (PDIP), Rusliansyah (Golkar), Rahmadi G Lentam (Golkar), dan Heriansyah (Gerindra). Selain itu, mantan birokrat yang pernah menjabat Camat Pahandut Palangka Raya, Abramsyah, serta pengurus KONI Kalteng Nurani Mahmudin, juga ikut dilantik.

Komposisi pengurus yang diperkuat sejumlah elite dan tokoh tersebut, membuat Demokrat optimistis bisa berbicara lebih banyak tahun 2024 mendatang. Bahkan, bukan tidak mungkin Nadalsyah sebagai Ketua DPD Demokrat Kalteng bakal diusung maju dalam pertarungan Pilkada Kalteng.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menekankan agar Partai Demokrat Kalteng bisa merebut kursi legislatif di setiap kabupaten/kota dan provinsi dalam jumlah besar pada Pemilu 2024.

”Saya minta kader partai agar berjuang, sehingga dengan banyak kursi di parlemen, DPRD provinsi, kabupaten, dan kota, maka kita (Demokrat, Red) akan mudah berkiprah dan berbuat untuk masyarakat,” kata Agus yang akrab disapa AHY tersebut.

Sementara itu, Nadalsyah menambahkan, dengan kekuatan Demokrat yang baru, pihaknya siap merebut kemenangan pada pemilu mendatang dengan melakukan pendekatan pada masyarakat. Dia juga optimistis partainya akan mampu meraih banyak kursi legislatif.

Baca Juga :  Negara Rugi Ratusan Juta akibat Korupsi Proyek Jalan di Seruyan

”Kami akan berupaya meraih banyak kursi di DPRD Kalteng, sehingga nanti mampu mengusung calon kepala daerah sendiri melalui partai, meskipun memang akan berkoalisi dengan partai lain,” tegasnya.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Kalteng Junaidi menuturkan, banyaknya tokoh dan elite politik partai lain yang bergabung ke Demokrat, sebagai bentuk kecintaan dalam perjuangan untuk rakyat.

”Banyak mantan politikus dari partai lain bergabung. Tak hanya itu, ada juga mantan birokrat dan camat yang mengabdikan dirinya untuk berjuang bersama Partai Demokrat,” tandasnya.

Politikus loncat partai merupakan praktik umum yang terjadi dalam peta politik Indonesia. Mengutip pendapat pengamat politik dari Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, seperti dilansir republika.co.id, politikus loncat partai hanya berorientasi pada kekuasaan. Meskipun lazim terjadi dalam perpolitikan Indonesia, bukan berarti perilaku seperti itu bisa dianggap angin lalu. Pasalnya, hal itu menunjukkan lemahnya kaderisasi di tubuh partai politik.

”Kader yang loncat itu merupakan contoh buruk, karena hanya berorientasi pada kekuasaan. Partai yang menerima politikus itu juga memperlihatkan bahwa mereka tidak bisa menghadirkan kader sendiri,” katanya.

Menurut dia, fenomena politikus kutu loncat menjadi kabar buruk bagi rekrutmen elite partai politik sekaligus elite nasional. ”Itu artinya, parpol gagal menginjeksi ideologi sehingga parpol hanya dianggap sebagai alat mendapat kekuasaan semata. Bukan dimaknai sebagai instrumen mengabdi pada rakyat dan kebaikan,” katanya.

Alasan berpindah partai, lanjutnya, memang bisa beragam. Namun, menurut Adi, kebanyakan, diakui atau tidak diakui, lebih demi kepentingan pribadi. “Biasanya mereka mencari alasan pembenaran atas manuver yang dilakukan. Tinggal masyarakat yang menilai,” katanya.

Pos terkait