Janji Tinggal Janji! Motoprix Kotim Disebut Abaikan Kesepakatan, Akses Klinik dan Gereja Tertutup Penonton

penonton road race
PENONTON : Ribuan penonton nekat menerobos terpal pembatas, menyaksikan pertandingan open race di jalur lintasan hingga menutupi separuh badan Jalan Yos Sudarso, Taman Kota Sampir, Minggu (14/12).

SAMPIT, radarsampit.com – Di balik kemeriahan dan kelancaran pelaksanaan Motoprix Kotim Open Race yang berlangsung di Taman Kota Sampit pada 13–14 Desember 2025, tersimpan kekecewaan dari sejumlah pihak. Panitia dinilai tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati dalam rapat koordinasi bersama Pemkab Kotim dan perwakilan gereja.

Ketua Dewan Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit, Adrianus Salampak, menyampaikan kekecewaannya karena kesepakatan soal akses jalan vital menuju fasilitas publik tidak diterapkan secara maksimal di lapangan.

Bacaan Lainnya

Dalam rapat yang digelar Selasa (9/12), panitia sebelumnya menyetujui pembukaan jalur keluar-masuk dari Jalan Siswondo Parman menuju Jalan Yos Sudarso sisi barat Taman Kota Sampit hingga pertigaan Jalan Pemuda. Jalur tersebut menjadi akses penting menuju Klinik Obor Terapung dan Gereja Katolik.

Namun realitas di lapangan jauh dari kesepakatan. Adrianus mengungkapkan, sejak pagi hingga sore hari, ruas Jalan S Parman di depan Museum Kayu justru dipenuhi parkir kendaraan penonton, sehingga akses ke klinik dan gereja praktis tertutup.

“Sejak awal kami menolak lokasi ini, tapi karena ada jaminan akses dibuka, kami akhirnya menerima. Faktanya, jalan justru tertutup parkir mobil dan motor, kendaraan tidak bisa lewat,” ujarnya.

Kepadatan kendaraan semakin parah pada siang hingga sore hari dan berdampak langsung pada aktivitas pelayanan publik serta kegiatan gereja. Adrianus bahkan mengaku kesulitan keluar lokasi usai rapat karena kendaraan parkir berlapis di kiri dan kanan jalan.

Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya pengendalian penonton dan parkir oleh panitia, padahal jalur tersebut telah ditetapkan sebagai akses vital.

“Kalau aksesnya tertutup total, jelas ini melanggar kesepakatan awal. Seharusnya kendaraan penonton tidak boleh masuk, kecuali yang memang berkepentingan ke klinik atau gereja,” tegasnya.

Tak hanya itu, penerapan jalur steril selebar 2,5 meter di Jalan Yos Sudarso juga dinilai tidak berjalan sesuai perjanjian. Dari pantauan di lapangan, jalur tersebut hanya terbuka di beberapa titik, sementara sebagian lainnya tertutup penonton.

“Di atas kertas sudah jelas jalur steril disiapkan sampai Jalan Pemuda, tapi yang terjadi hanya setengah-setengah. Kalau seperti itu, sama saja aksesnya tidak maksimal,” lanjut Adrianus.

Persoalan krusial lainnya adalah akses layanan kesehatan. Meski di depan klinik tampak terbuka, ambulans tetap tidak dapat masuk karena jalur ujung jalan tertutup parkir kendaraan penonton.

Padahal dalam rapat koordinasi, telah ditegaskan bahwa jalur evakuasi medis wajib steril dan tidak boleh terhalang dalam kondisi apa pun, dengan lebar minimal 2,5 meter yang benar-benar fungsional.

Selain soal akses, pengawasan panitia terhadap penonton juga dinilai lemah. Penonton terlihat bebas menerobos pembatas terpal, memanjat pagar, hingga menyaksikan balapan dari badan Jalan Yos Sudarso, yang membuat lintasan pembalap semakin menyempit.

Kegiatan ini juga menuai sorotan karena minimnya persiapan kebersihan. Tidak tersedia tempat sampah yang memadai, sehingga kawasan Taman Kota Sampit dipenuhi sampah usai acara berakhir sekitar pukul 18.00 WIB.

Menanggapi kritik tersebut, Ketua Club Cipta Mentaya Production sekaligus panitia pelaksana, Muhammad Hasbi, menyatakan pihaknya telah berupaya menjaga akses ke klinik dan gereja, meski tidak bisa menjamin area sepenuhnya steril dari penonton.

Ia mengakui kondisi di lapangan sulit dikendalikan karena membludaknya penonton. Namun menurutnya, secara umum kegiatan tidak sampai menghambat aktivitas gereja.

Pos terkait