Rapat Sempat Memanas, Road Race Taman Kota Sampit Diputus Jalan Terus

ilustrasi road race baru
Ilustrasi Road Race Sampit

SAMPIT, radarsampit.com – Rencana road race (balap motor) di Taman Kota Sampit yang sempat menuai pro kontra antara mendukung dan menolak, akhirnya dibawa ke rapat yang difasilitasi Pemkab Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Selasa (9/12).

Rapat sempat berjalan panas, diwarnai perdebatan dan perbedaan pendapat, hingga akhirnya disepakati event yang selalu menyedot tontotan masyarakat itu digelar pada 13-14 Desember 2025 di Taman Kota Sampit.

Bacaan Lainnya

Penolakan sempat diutarakan Adrianus Salampak, selaku Ketua Dewan Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit dan pihak Klinik Utama Terapung.

Ia mengatakan, pihaknya mendukung pelaksanaan road race, namun lokasinya bukan di Taman Kota Sampit.

“Berapa kali kami mengajukkan surat kepada Pak Bupati terkait penolakan kegiatan road race yang dilaksanakan di Taman Kota Sampit, tetapi tidak ditanggapi,” ujar Salampak.

Namun lanjutnya, pada 31 Mei 2024 keluar surat edaran Bupati Kotim yang tidak memperbolehkan kegiatan berskala besar dilaksanakan di Taman Kota Sampit sisi barat Jalan Yos Sudarso.

“Kegiatan road race sangat menghambat pasien yang berobat. Di sekitar taman juga ada gereja Katolik yang dapat mengganggu kekhuyusukan beribadah. Karena, suara bising motor tidak bisa kita hindari, akses masuk jalan juga tertutup karena dipenuhi banyak penonton,” papar Salampak.

Ia berharap, agar surat edaran Bupati Kotim tidak dilanggar oleh pemerintah daerah itu sendiri.

“Apakah karena ini kegiatannya gubernur lalu bisa menabrak aturan? Pada tanggal 13 Desember kami juga ada kegiatan Pesparani dari pagi hingga siang dan 14 Desember 2025 juga ada kegiatan donor darah di Klinik Terapung dilanjutkan ibadah di gereja jam 17.00 sore,” terang Salampak.

Dirinya pun menilai, apabila Pemkab Kotim sendiri yang menempatkan arena balap motor di Taman Kota Sampit, sama saja melegalkan balapan liar.

“Karena biasa ada acara di Taman Kota Sampit, anak-anak jadi menggunakan areal Taman Kota Sampit sebagai arena balapan liar. Ini secara tidak sadar sama saja melegalkan kawasan Taman Kota Sampit sebagai arena balapan liar. Karena itu, ada alasan yang jelas kenapa kami tidak setuju kegiatan road race dilaksanakan di Taman Kota Sampit,” ungkap Salampak.

Sementara itu, di tengah pro kontra sebelum rapat tersebut, Pastur Paroki Santo Joan Don Bosco Sampit RP Yohanes Kopong Tuan mengaku menerima ancaman misterius di media sosial yang tak diketahuinya pasti siapa pemilik akunnya.

“Apabila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di Taman Kota Sampit maka akan rusuh,” ungkapnya.

“Kami tegaskan, bahwa yang kami tolak bukan kegiatan roadrace, tapi tempatnya yang kami tidak setuju. Kita seharusnya berpegang teguh pada surat edaran yang dikeluarkan bupati yang tidak memperbolehkan kegiatan berskala besar di Taman Kota Sampit,” ujarnya.

Yohanes mengatakan, panitia menjanjikan akan memberikan akses keluar masuk untuk jemaat ataupun pasien Klinik Obor Terapung. Namun sering fakta di lapangan tidak sesuai harapannya.

“Janji panitia itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Bahkan, ada penonton yang sampai memanjat pagar, apakah panitia bisa menjaga dan menjamin keamanan gereja dan klinik yang ada di sekitar areal Taman Kota Sampit,” paparnya.

Salah satu jemaat gereja juga mengatakan bahwa pelaksanaan road race telah dilaksanakan sejak 1997 dan tidak ada protes atau penolakan dari warga setempat.

“Apakah karena road race itu sudah dilaksanakan sejak tahun 1997 lalu terkesan membenarkan hal yang salah. Nanti tahun depan nego lagi. Apakah Pemkab Kotim tidak mampu menyediakan road race, kenapa tidak concern membenahi road race di Jenderal Sudirman KM 6. Saya harapkan ada langkah maju untuk perubahan yang lebih baik, bukan membenarkan hal yang salah,” urainya lagi.

Pos terkait