RadarSampit.com – Mencari nafkah untuk keluarga, memang tanggung jawab suami. Namun, faktanya sering kali terbalik. Entah karena suaminya yang terlalu lemah atau sebaliknya, perempuannya yang terlalu strong.
Dalam kasusnya pasangan Karin, 40, dan Donwori, 45, si perempuan lebih dominan. Dominan dalam segala hal. Ya soal sikap, gaya hidup maupun penghasilan.
Sayangnya, menjadi dominan selama belasan tahun membuat Karin menemukan titik lelah. Lelah berharap Donwori lebih giat bekerja. Ternyata selama belasan tahun itu, harapan maupun janji saat meminang yang disampaikan Donwori selalu palsu.
“Wes cukup semene wae (dah cukup segini aja), aku kesel kerjo gawe mbandani lanangan klimprak-klimpruk (aku kesel kerja buat biayai laki yang bekerja lelet),” curhat Karin panjang lebar di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, pertengahan pekan lalu.
Landasan Karin dan Donwori menikah sebenarnya sudah cukup kuat. Saling mencintai sekaligus menyayangi, pacaran hampir lima tahun. Tapi, ya itu tadi; rumah tangga ada prosesnya. Kalau selama proses itu jalannya rusak kayak jalanan di Lampung yang dilewati Presiden Jokowi, ya maaf-maaf saja.
Kekesalan Karin beralasan. Sejak menikah, sudah tak terhitung lagi ia menjajal berbagai pekerjaan yang ‘awalnya’ sekadar membantu suami. Mulai dari jadi guru honorer hingga berjualan kue, barang rajut dan baju. Semua ia lakoni agar anak bisa makan telur setiap hari. Begitulah istilahnya.
Yang terakhir, Karin menjual minuman kesehatan yang sehari pendapatannya mengalahkan gaji orang kantoran. Kira-kira pekerjaan itu ia lakoni sudah lima tahun lamanya.
Sementara Karin mulai dari nol merintis usaha, Donwori tetap stagnan saja. Meski sudah berkali-kali didesak agar pindah kerja, Donwori tetap setia pada pekerjaannya sebagai karyawan pabrik makanan. Konon gajinya juga tak seberapa. Tak sampai UMR-nya Surabaya.
Sering liburnya juga ketimbang masuknya. Setiap Karin desak untuk pindah pekerjaan, jawabannya dari zaman baheula juga tetap sama. Mencari pekerjaan susah, takut kalau melepas kerjaannya Donwori jadi pengangguran seumur hidup.
Yang membuat Karin semakin jengkel, gaji Donwori ini ternyata juga tak besar. Sering libur juga karena permintaan naik turun. Alhasil, Donwori jadi pengangguran terselubung. Yang kalau sedang banyak liburnya, Donwori hanya akan di rumah seharian. Kalau nggak mincing, dulinan manuk (mainan burung), ya main game. “Iyo lek kenek diandelno, orae (ya kayagini diandalkan, ga ah). Kadang cuma dolanan manuk (mainin burung), motor, nonton TV, luwe mangan (lapar langsung makan), bengine marung muleh-muleh njaluk (malamnya, pulang-pulang langsung minta gituan),” celetuknya lagi.
Merasa suaminya tak memiliki inisiatif, Karin pun mencoba memberdayakan suami manjanya ini. Tak jarang Donwori ditugasi untuk mencuci peralatan masak, ngepel hingga memandikam anak. Apa pun yang tak bisa Karin candak karena sibuk dengan dagangannya, ia limpahkan ke Donwori.
Tukar peran ini terjadi cukup lama. Semakin hari Donwori semakin sering di rumah. Sebaliknya, semakin hari Karin semakin sering ke luar rumah memperluas jaringan usahanya.
Eh lha dalah, di tengah usahanya mencari nafkah ini, Karin kesengsem dengan pria lain yang kebetulan duda produktif. Setelah mempertimbangkan masa depan dua anaknya dan tentu saja kesehatan ‘jiwa’-nya, Karin memillih melepaskan Donwori yang sudah macam gombal amoh itu. “Lagian pacarku yang baru ya nrimo (terima) dua anakku. Kerjoane (kerjanya) ya jelas. Kurang opo maneh (kurang apa lagi),” pungkas Karin, santai. (*/opi)








