Lone Wolf Bikinan JAD

teroris
DIPERKETAT: Petugas kepolisian memeriksa barang bawaan pengunjung di pintu masuk Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (1/4). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS )

JAKARTA – Posisi sulit dihadapi Polri dalam upaya pengamanan markas besar (Mabes). Pascapenyerangan teroris Zakiah Aini, jelas keamanan Mabes harus dievaluasi, mencegah kejadian aksi teror terulang. Namun, Polri memiliki tugas yang memaksanya untuk bersentuhan dengan warga berupa pelayanan masyarakat. Seperti,  izin keramaian, pelaporan masyarakat, pemeriksaan saksi, dan segudang izin lainnya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dengan tegas menyatakan pelayanan total kepada masyarakat tetap dilakukan. Meski begitu, dia tetap meminta personil melakukan peningkatan kewaspadaan dan pengamanan di maskar maupun tempat bertugas.

Bacaan Lainnya

Dari pantauan Jawa Pos, memang untuk masuk ke Mabes Polri sekarang sudah diperketat. Bila dulu masuk hanya diperiksa melalui x-ray dan menunjukkan kartu identitas. Namun, pasca serangan teror Zakiah Aini, semua berubah.

Setiap pengunjung, harus memperlihatkan karut identitasnya. Petugas lantas mengambil gambar kartu identitas beserta pemiliknya. Petugas lalu akan bertanya tekait kepentingannya bertamu ke Mabes Polri dan menggeledah barang-barang yang dibawa. Setelah diketahui kepentingannya, kartu identitas harus dititipkan ke petugas jaga.

Pengunjung lantas mendapatkan kartu tamu berwarna merah sebagai pengganti kartu identitas yang dititipkan. Setelah urusan selesai dan akan keluar dari Mabes Polri, barulah kartu tamu itu kembali ditukar dengan kartu identitas. Perlu diketahui juga, bahwa semua penjaga menggunakan senjata lengkap.

Selain itu, juga di pos masuk penjagaannya di juga dilakukan berlapis. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menuturkan bahwa masih melakukan audit soal pengamanan masuk Mabes Polri. ” akan diperbaiki,” ujarnya kemarin.

Pengetatan semacam itu terjadi hampir di semua kantor kepolisian. Salah satunya, Polda Metro Jaya Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Yusri Yunus menjelaskan, memang terjadi pengetatan sebagai antisipasi kejadian di Mabes Polri. ”Tingkatkan pengamanan  dengan naggota bersenjata dan pemeriksaan badan di setiap pintu,” jelasnya.

Terkait kondisi psikologis Zakiah Aini yang berideologi radikal, Polri masih irit bicara. Namun, Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan bahwa ideologi radikal saat ini sangat mudah mencuci otak melalui dunia maya. ”Biasanya menyasar orang yang keingintahuan agamanya tinggi. Tapi, tidak memiliki basis agama yang kuat,” ujarnya.

Dia menuturkan, justru saat ini yang dimanfaatkan kelompok teror itu orang-orang yang bisa menjadi lone wolf. Hal itu dikarenakan menguntungkan untuk kelompok teroris. ”Tidak perlu mengajak ke pengajian yang anggotanya banyak. Lebih aman untuk kelompok teroris,” paparnya.

Memang secara tingkat kerawanan, pelaku teror berkelompok lebih berbahaya dari lone wolf. Namun, Lone Wolf jauh lebih sulit untuk terpantau karena bekerja sendirian. ”dia ganti-ganti handphone juga agar mentornya tidak ketahuan,” paparnya.

Kelompok mana yang biasa merekrut lone wolf melalui dunia maya? Dia menjelaskan bahwa dari tiga kelompok terorisme, yakni Jamaah Ansharut Daulah (JAD) , Mujahidin Indonesia Timur, dan Jamaah Islamiyah (JI). Yang tercatat satu-satunya yang merekrut melalui dunia maya hanya JAD. ”Jadi, saya menduga ini akibat JAD,” tuturnya.

Yang perlu menjadi catatan, lanjutnya, soal kemungkinan kelompok teroris terinspirasi dengan aksi Zakiah Aini. Menurutnya, perlu dilakukan pendalaman dan patrol siber terhadap simpul-simpul kelompok teroris. ”lalu, segera menangkap simpul-simpul tersebut,” urainya.

Dulu, kelompok teroris ISIS dinilai menjadi pengaruh besar terhadap kelompok teroris di Indonesia. Ada anggapan bahwa bila ISIS hancur, maka kelompok teroris di Indonesia juga akan menghilang. Al Chaidar menuturkan, namun ternyata Indonesia terjadi devian.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *