PALANGKA RAYA, Radarsampit.com – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) perlu diwaspadai masyarakat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker N95 jika terpaksa keluar, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas saat beristirahat.
Peringatan tersebut disampaikan Budi saat melakukan kunjungan kerja di Kalteng, Jumat (23/10/2026). Ia mengaku melihat langsung kondisi udara yang memburuk dengan tingkat polusi mencapai lebih dari 1.000, disertai kabut asap yang cukup tebal.
“Sebaiknya teman-teman tinggal di rumah, karena polusinya saya lihat hari ini tinggi sekali. Di atas seribu tadi, dalam perjalanan saya ke sini. Dan saya juga lihat, tebal juga,” ujar Budi kepada awak media saat menuju Puskesmas Menteng.
Budi mengingatkan kelompok rentan, seperti balita, lanjut usia, dan ibu hamil, agar lebih berhati-hati selama kualitas udara masih buruk. Mereka disarankan membatasi kegiatan di luar ruangan untuk mengurangi risiko paparan polusi.
Sementara itu, masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker N95. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) disebut telah menyalurkan sebanyak 137 ribu masker jenis tersebut guna membantu melindungi masyarakat dari paparan partikel berbahaya.
Menurut Budi, salah satu ancaman utama kabut asap adalah partikel halus PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Karena itu, masker biasa belum tentu memberikan perlindungan yang memadai terhadap partikel tersebut.
“Say sampaikan kenapa mesti N95? Karena polusinya yang paling tinggi adalah polusi partikel, PM2.5. Itu kecil partikelnya. Itu bisa menembus kalau kita pakai masker biasa,” jelasnya.
Penggunaan masker juga harus dilakukan dengan benar. Masker N95 perlu menutupi hidung dan mulut secara rapat agar tidak ada celah di bagian tepinya. Pemasangan yang kurang tepat dapat mengurangi efektivitas penyaringan udara.
Kemenkes, lanjutnya, akan memberikan edukasi melalui media sosial mengenai cara menggunakan masker yang benar.
Di tengah kondisi udara yang memburuk, Budi turut memaparkan perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode karhutla.
Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah kasus ISPA yang tercatat di tujuh provinsi pada awal kejadian berkisar 12 ribu hingga 15 ribu kasus per hari. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari pada hari sebelumnya.
Meski menunjukkan penurunan, masyarakat tetap diminta tidak lengah. Paparan kabut asap masih berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki kondisi tubuh rentan.
Budi menjelaskan, ISPA dengan gejala ringan umumnya dapat ditangani di rumah melalui istirahat yang cukup, konsumsi air yang memadai, serta mengurangi paparan asap.
Namun, masyarakat harus mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan medis segera. Salah satunya adalah sesak napas ketika sedang beristirahat atau tidak melakukan aktivitas fisik.
“Saya sampaikan kondisi harus segera diperiksakan jika muncul tanda bahaya, terutama sesak napas saat sedang beristirahat atau tidak melakukan aktivitas fisik. Semua harus melakukan itu, termasuk wartawan. Sehat-sehat selalu ya,” pungkasnya.
Selain mengingatkan masyarakat, Budi mengapresiasi kesiapan Pemerintah Provinsi Kalteng dalam menghadapi dampak karhutla. Menurutnya, pemerintah daerah telah melakukan persiapan untuk mendukung penanganan persoalan kesehatan masyarakat di tengah ancaman kabut asap.








