Bulan Ramadan menjadi momen untuk menambah kegiatan keagamaan bagi anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Pangkalan Bun. Apa saja aktivitas mereka selama Ramadan? Berikut ulasannya.
SYAMSUDIN DANURI, Pangkalan Bun | radarsampit.com
Panti Asuhan Muhammadiyah Pangkalan Bun, yang didirikan pada tahun 2002, telah menjadi rumah bagi 40 anak-anak dari berbagai latar belakang yang membutuhkan.
Dengan 22 anak tingkat SD, 12 anak tingkat SMA/SMK, dan sisanya SMP, panti asuhan ini memberikan tempat perlindungan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga broken home, yatim piatu, dan keluarga yang kurang mampu.
Meskipun ada perbedaan dalam latar belakang mereka, Panti Asuhan Muhammadiyah Pangkalan Bun berusaha untuk memberikan pendidikan dan pelatihan yang merata bagi setiap anak asuhnya.
Di panti ini, ada 10 anak yang tinggal permanen, sementara sisanya kembali ke panti saat mereka memiliki aktivitas. Setiap harinya, kegiatan mereka semakin padat, terutama selama bulan Ramadan.
Ketua Panti Asuhan, Sarlan Lamri, menjelaskan, aktivitas dimulai sejak dini hari dengan sholat tahajud, disusul dengan makan sahur dan sholat subuh berjamaah. Setelah itu, mereka mengikuti kegiatan sekolah, yang selama awal Ramadan ini sementara libur.
”Selain kegiatan agama, kami juga membekali mereka dengan ekstrakurikuler, seperti beladiri dan olahraga,” ungkapnya.
Di luar itu, panti asuhan ini juga mengadakan kegiatan yang mendukung pengembangan keterampilan anak-anak, seperti les tambahan dalam bidang enterpreneurship.
Sarlan menuturkan, pihaknya sedang mengembangkan program bioflok dan hidroponik sebagai bagian dari upaya mendidik anak-anak untuk memiliki keterampilan yang berguna di masa depan.
”Kami berharap mereka memiliki bekal yang cukup untuk menata kehidupan mereka kelak,” ujar Sarlan Lamri, yang didampingi oleh pengasuh Panti Asuhan, Nurmaida.
Panti Asuhan Muhammadiyah Pangkalan Bun sebelumnya pernah meraih penghargaan sebagai juara dua nasional di bidang entrepreneurship. Pada masa lalu, mereka sukses menjalankan usaha pengolahan susu kedelai, bengkel, dan ternak sapi, meskipun saat ini program-program tersebut terhenti.
”Saat ini, kami tengah berbenah dan pergantian kepengurusan. Harapannya, kami bisa kembali berprestasi dan membantu anak-anak panti untuk lebih mandiri,” tutur Sarlan.
Selain kegiatan pendidikan dan keterampilan, pengasuh panti juga menekankan pentingnya kesabaran dan keikhlasan dalam mendidik anak-anak dengan beragam latar belakang tersebut.
”Kami harus bisa memahami karakter masing-masing anak, sehingga pendekatan kami lebih personal dan efektif,” kata pengasuh panti.
Selama Ramadan, kegiatan mereka mencakup tadarusan, hafalan ayat, buka bersama, serta sahur, yang semuanya dijalani dengan penuh semangat dan kekompakan.
Dalam hal kebutuhan operasional, Panti Asuhan Muhammadiyah Pangkalan Bun mengeluarkan sekitar Rp14 juta setiap bulan untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari anak-anaknya. Biaya ini ditanggung oleh pengurus panti dengan dukungan dari donatur.
”Kami bersyukur bisa mencukupi kebutuhan mereka, dan kami berencana untuk mengubah kesan panti yang kumuh menjadi lebih bersih dan berkualitas,” tambah Sarlan Lamri, yang berkomitmen untuk terus berupaya memperbaiki fasilitas dan program di panti asuhan ini. (***/ign)








