Kebaikan Berbalas Kekerasan: Ketua Panti Asuhan Babak Belur Dihajar Pria yang Ditolong

panti asuhan
DIRAWAT: Sri Rohani, Ketua Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu menunjukkan hasil rontgen keretakan tulang pipi dan rahang akibat pemukulan, Jumat (14/11).

Radarsampit.com – Kebaikan dibalas dengan penyiksaan. Itulah yang dialami Sri Rohani. Ujian hidup bertubi-tubi memperjuangkan Panti Annida Qolbu dalam kondisi sakit, tak menghentikannya berbuat kebaikan. Saat menampung pria terlantar, yang ditolong malah berbuat jahat.

Kehidupan anak-anak Panti Asuhan Annida Qolbu yang tadinya tenang dengan fasilitas yang apa adanya berubah mencekam. Selama kurang lebih sebulan, sekitar 40-an anak panti beserta pengurus hidup dalam tekanan ancaman.

Bacaan Lainnya

Dalam gelapnya malam yang sunyi, mereka tidur dalam suasana hati yang tak tenang sejak kehadiran Rahmad Ramadhoni (40). Pria yang mengaku terlantar itu ditampung Sri Rohani, Ketua Yayasan Panti Asuhan Annida Qolbu sejak pertengahan Oktober 2025 lalu.

Gelagat tak beres sebenarnya sudah terlihat Sunarti, Pengurus Panti Asuhan Annida Qolbu. Ia bersama pengurus lainnya, sudah menyarankan Sri Rohani agar tak menampung pria temperamental tersebut.

Namun, karena kebaikan hati Sri Rohani, dia bersikeras tetap menampungnya. Bahkan, beberapa kali diberi uang Rp100-150 ribu. Padahal, kesehariannya sebagian besar tidur, tak banyak membantu panti.

”Saya memang kenal dengan orang ini. Dulu tetangga saat rumah di Jalan Ahmad Yani. Tapi, saya tidak begitu mengetahui karakternya. Saya sudah disarankan anak-anak panti agar tidak usah menampungnya, tetapi karena saya berpikir, kita tidak boleh menilai orang dari tampak luarnya, siapa tahu masih ada sisi baik dalam dirinya,” ucap Sri Rohani yang akrab disapa Ummi saat ditemui Radar Sampit di Panti Asuhan Annida Qolbu, Jumat (14/11)

Selama kurang lebih sebulan pria itu hanya makan dan tidur tanpa membantu. Bahkan, berani mengancam anak panti, Gading Martin alias Iyut yang masih berusia 10 tahun. Iyut dihasut mencuri beras 10 kg, stok persediaan untuk anak-anak panti. Pencurian itu sudah dilakukan beberapa kali.

”Iyut diancam. Kalau tidak ambil beras, Rahmad ini mau mematahkan tangannya. Anak masih kelas 4 SD pasti takut diancam seperti itu, akhirnya terpaksa menuruti dengan masuk lewat jendela,” ujar wanita berusia 53 tahun ini.

Pos terkait