PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Pemerintah Desa Pasir Panjang masih menutup lokasi pemandian umum di Sungai Pasir Panjang setelah kejadian tenggelamnya salah satu pengunjung beberapa hari lalu.
Meski ada keinginan masyarakat luas agar pemandian tersebut ditutup permanen, namun tidak sedikit yang meminta agar ada perbaikan pelayanan terutama dalam hal keamanan dan keselamatan para pengunjung.
Untuk itu, pengawasan harus dilakukan oleh profesional yang sudah dibekali dengan keterampilan penyelamatan dan penanganan pertama ketika terjadi korban tenggelam.
Warga Pangkalan Bun, Indra mengatakan sudah saatnya pengelola memikirkan untuk menyiapkan tenaga profesional untuk memastikan keamanan para pengunjung. Apalagi tempat rekreasi tersebut berpotensi terjadi kecelakaan dan jumlah pengunjung yang banyak.
“Petugas tidak boleh lengah, harus waspada dan jangan jauh dari pemandian, selain itu para pengawas harus dibekali dengan keterampilan bukan saja untuk penyelamatan tetapi juga penanganan pertama saat terjadi insiden,” ujarnya, Rabu (10/8).
Menurutnya selama ini, pihak pengelola abai terhadap hal itu, apalagi setiap harinya khususnya pada sore hari dipadati pengunjung. Kemudian ada retribusi yang seharusnya dibarengi dengan tanggung jawab untuk memberikan rasa aman kepada pengunjung.
Ia menyarankan agar ada pos pantau yang dibangun di posisi yang dapat melihat seluruh aktivitas di sungai tersebut, sehingga insiden sekecil apapun dapat terdeteksi sejak dini.
“Misal ada pengunjung yang sudah nampak lelah harus diingatkan, bukan saja kepada yang bersangkutan tetapi juga kepada para orang tuanya,” harapnya.
Warga Pangkalan Bun lainnya Topan, mengaku sebelum ini hampir setiap akhir pekan membawa anak-anaknya berwisata ke pemandian umum tersebut. Diakuinya bahwa pengawas di tempat tersebut tidak ada, otomatis hanya orang tua yang harus waspada dalam menjaga putra putrinya.
Ditegaskannya, bila pengelola tidak mampu untuk melakukan pengawasan maka sebaiknya pemandian tersebut ditutup untuk umum, dan dialihkan fungsinya menjadi wisata alam. Terlebih pemerintah desa setempat sudah membangun jembatan untuk warga bisa bersantai menikmati suasana hutan yang masih alami di lokasi tersebut.
“Intinya hanya persoalan pengawasan terhadap pengunjung dan sungai yang dalam diberi tanda dan bagi anak-anak tidak boleh berenang sampai ke lokasi tersebut, memang membutuhkan pengawasan yang melekat,” tandasnya.
Sementara itu Kepala Desa Pasir Panjang Tamel, menjelaskan bahwa setelah musibah tenggelamnya salah seorang pengunjung di Pemandian Desa Pasir Panjang, pihaknya bersama tokoh adat dan tokoh masyarakat telah melakukan prosesi berosih dan tapung tawar.
Berdasarkan masukan dari banyak pihak, sebelum dibuka kembali maka ada beberapa hal yang perlu dibenahi terkait standarisasi operasional pemandian Sungai Pasir Panjang, terutama terkait dengan pemantauan ketinggian air.
“Termasuk pemisahan pemandian untuk anak-anak dan untuk dewasa, dan juga untuk anak yang belum bisa berenang, selain itu nanti dari pengawas akan melakukan imbauan selama aktivitas kunjungan masyarakat,” terangnya.
Pemerintah desa juga akan memasang pengeras suara di beberapa titik, dari ujung pemandian jembatan susur sungai maupun sampai ke sungai yang dekat dengan jalan poros.
Ia berharap semua pembenahan yang dilakukan dapat meminimalisir potensi terjadinya kecelakaan maupun korban saat berekreasi. “Ritual sudah kita lakukan, yang penting kita membenahi semuanya agar kedepannya pelayanan lebih baik lagi,” pungkasnya. (tyo/sla)








