Polisi Kerahkan Pasukan Jaga Perkebunan untuk Redam Penjarahan Sawit yang Tak Terkendali

polisi
ANTISIPASI PENCURIAN: Aparat kepolisian mengerahkan pasukan menjaga wilayah perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Mentaya Hulu.

SAMPIT, radarsampit.com – Masih berlangsungnya panen sawit massal oleh warga di perkebunan wilayah Desa Kuala Kuayan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah jadi perhatian serius aparat kepolisian.

Pasukan dikerahkan untuk menjaga wilayah perkebunan dari aksi warga yang dinilai sebagai pencurian tersebut.

Kabag Ops Polres Kotim Kompol Riza Fazrul Wahyudi mengatakan, pencurian tandan buah segar kelapa sawit tersebut telah berlangsung selama enam bulan. Aksi itu bahkan dilakukan masyarakat di luar desa setempat.

”Bahkan, mendekati Lebaran saja pencurian masih berlangsung di perusahaan tersebut,” kata Riza, Minggu (14/4/2024).

Riza menuturkan, pencurian dilakukan oknum masyarakat dengan beralasan menuntut hak plasma yang tak diberikan perusahaan.

”Apabila pencurian ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan akan memengaruhi investasi, khususnya di wilayah Kotim,” ujarnya.

Riza menegaskan, pihaknya telah mengeluarkan imbauan berupa surat edaran Forkopimda tentang larangan pemanenan secara ilegal di wilayah Kotim. Apabila imbauan tersebut diabaikan, pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap pelakunya.

”Kami tidak akan melakukan pembiaran terhadap pencurian yang menyasar kebun perusahaan. Saat ini sudah ada beberapa orang yang kami amankan,” katanya.

Baca Juga :  Karhutla Kobar Terus Meluas, Bikin Warga Panik

Ketua Komisi I DPRD Kotim Rimbun sebelumnya mengatakan, aksi panen massal di lokasi perkebunan wilayah Kuala Kuayan dinilai sebagai buntut ketidakjelasan realisasi kesepakatan antara warga Mentaya Hulu dan perusahaan. Untuk meredamnya perlu beberapa kesepakatan lagi yang dimunculkan.

”Panen massal ini sebelumnya sudah pernah terjadi dan sebagai bentuk protes dari masyarakat pada perusahaan. Waktu itu dimediasi dan membuahkan beberapa kesepakatan, sehingga dihentikan. Ternyata sampai sekarang kesepakatan itu tidak dijalankan perusahaan dan akhirnya masyarakat turun lagi ke lapangan,” kata Rimbun, beberapa waktu lalu.

Menurut Rimbun, ketika terjadi aksi panen massal, sulit lagi dibendung. Akhirnya, bukan hanya warga sekitar yang ikut aksi itu, tetapi juga menjalar sampai ke wilayah lainnya.



Pos terkait