Praktik Kelam Pengemis Jalanan di Kota Sampit, Diduga Diekploitasi untuk Jadi Mesin Uang

ilustrasi pengemis
Ilustrasi pengemis

SAMPIT, radarsampit.com – Tertangkapnya bos pengamen jalanan di Kota Sampit, Ms (43), menguak kelamnya bisnis ilegal tersebut dijalankan. Sang bos selaku koordinator, diduga mengeksploitasi sejumlah anak untuk menjadi mesin uang dengan mengamen dan mengemis di sejumlah sudut Kota Sampit.

Profesi pengamen menjadi salah satu modus Ms untuk mengeruk harta. Tanpa dibekali bakat memainkan alat musik atau bernyanyi, ”anak asuhan” Ms seliweran di sejumlah titik kota, berharap uang dari warga. Bahkan, sebagian minta secara terang-terangan.

Bacaan Lainnya

Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP Kotim Sugeng Riyanto mengatakan, praktik yang dilakukan Ms seolah terorganisir. Dia membagi tugas ”timnya” saat sejumlah anak-anak beroperasi di jalanan.

”Ada yang tugasnya mengawasi Satpol PP. Sampai mobil Satpol PP dihapalnya. Kalau ada melihat Satpol PP dari kejauhan, mereka telepon-teleponan, atur strategi kabur. Ada juga yang mengantar anak-anak ke jalan. Ada juga anaknya yang sudah punya anak, naik pangkat, tidak lagi mengemis, tapi masih ikut mengurusi adik-adiknya mengemis,” ujarnya.

Ms tertangkap Senin (24/7) lalu, saat mengintai pergerakan Satpol PP Kotim di Jalan Jeruk III, tak jauh dari Kantor Satpol PP Kotim di Jalan HM Arsyad. Dia diciduk petugas hanya dengan berjalan kaki.

”Memang tidak dalam keadaan mengemis. Dia sempat protes, karena cuma makan pentol disitu. Karena, petugas mengenalinya, dia tetap kami tangkap,” ujarnya.

Menurut Sugeng, awalnya pihaknya merencanakan melakukan operasi gelandangan pengemis (gepeng) sekitar pukul 18.00 WIB. ”Kami sudah mengetahui jam-jam mereka mengamen. Biasanya mulai dari jam empat sore, setelah itu lanjut lagi dari jam tujuh sampai jam delapan malam. Karena mereka tahu kami jam delapan malam patroli, mereka kabur,” katanya.

Ms sudah berkali-kali ditangkap karena kedapatan mengemis sambil membawa anak. Informasinya, dia sengaja memberdayakan anak-anaknya mengemis atau mengamen di jalan untuk mendapatkan belas kasihan pengendara. Ms mewariskan profesi itu pada anak-anaknya sebagai sumber penghasilan utama.

”Dia ini sudah bertahun-tahun meminta-minta. Sempat berhenti karena ditangkap, setelah itu kembali meminta-minta lagi melibatkan anak-anaknya. Katanya pekerjaannya menjual ikan asin. Suaminya buta menjadi tukang urut, tetapi sebenarnya pekerjaannya hanya menjadi pengemis,” ujarnya.

Ms pun tak membantah saat dihujani pertanyaan bahwa ia bekerja sebagai koordinator pengemis dan mendidik anak-anaknya menjalani profesi serupa. Dari meminta-minta uang itu, Ms bisa membeli sejumlah barang berharga, salah satunya emas dan perak. Bahkan, dia bisa mengubah penampilannya menjadi lebih berbeda dibanding saat ditangkap sebelumnya.

”Dulu badannya kurus tidak terurus. Sekarang siapa saja yang melihat wajahnya tidak langsung percaya kalau itu Ms. Dia berubah. Wajahnya menjadi glowing. Badannya berisi. Emas yang dikenakannya banyak,” katanya.

Saat anggota Satpol PP Kotim menggeledah tasnya, banyak ditemukan emas lengkap dengan 21 kuitansi pembelian yang mencapai Rp51,8 juta. Mesah juga membawa uang tunai sebesar Rp2,1 juta, handphone, perhiasan perak senilai Rp965 ribu lengkap dengan 14 lembar kuitansi pembelian.

”Sudah dua hari ini Mesah dibawa ke Kantor Dinsos Kotim untuk dibina. Besok dia mungkin akan dipulangkan, karena hanya dengan membina seperti inilah cara pemerintah daerah memberikan efek jera kepada pengemis,” ujar Sugeng, Selasa (25/7).

Catatan Radar Sampit, pada Mei 2021 lalu, Ms sempat viral dan disebut sebagai pengemis kaya, karena memiliki banyak harta. Dia memiliki 12 anak dari hasil pernikahan siri. Ketika itu, anak tertuanya menjadi koordinator pengemis untuk mengerahkan adik-adiknya turun ke jalan mengemis dan mengamen.

Pos terkait