SAMPIT, radarsampit.com – Inovasi transparansi pendidikan di era digital mulai diterapkan di SMP Negeri 1 Sampit melalui peluncuran kartu kehadiran digital atau kartu pelajar digital dan website interaktif yang dapat diakses orang tua.
”Awalnya Pak Dwi datang ke ruangan saya, menyampaikan idenya, bagaimana peserta didik tidak perlu absensi secara manual lagi, absensi kehadiran siswa semua terintegrasi ke sistem berbasis digital. Selama kurang lebih satu tahun, kita memikirkan, melakukan uji coba. Walaupun masih ada kendala yang perlu terus diperbaiki, namun saatnya hari ini kita meluncurkan tiga sistem berbasis digital yang dapat memberikan kemudahan,” kata Maspa Saridin Puluhulawa, Kepala SMPN 1 Sampit, Senin (13/11).
Maspa menyambut gembira dan merasa bersyukur memiliki guru yang profesional di SMPN 1 Sampit yang ahli dibidang teknologi informatika.
”Alhamdulillah sebentar lagi saya pensiun, sistem ini akan mulai diterapkan besok (hari ini). Kalau Januari 2023 lalu, kami pernah luncurkan perpustakaan berbasis digital, ternyata dalam perjalanannya, kami menghadapi kendala tenaga yang menginput buku ke sistem sehingga kami masih mencari solusi. Harapannya aplikasi ini dapat terus dikembangkan dan kendala yang dihadapi dapat diatasi,” katanya.
Tak lupa Maspa mengucapkan terima kasih kepada ketua komite dan pengurus yang selama ini bekerjasama dalam pengembangan SMPN 1 Sampit.
”Saya sangat berterima kasih kepada ketua komite, belum pernah saya menemukan orang tua yang ikut membantu mengembangkan sekolah tanpa pamrih. Seandainya ada informasi yang kurang enak didengar diluaran sana, tidak lain kami ingin mengembangkan sekolah ini agar bisa benar-benar menjadi nomor satu sesuai dengan namanya SMPN 1 Sampit,” katanya.
Ketua Komite SMPN 1 Sampit Susilo memberikan apresiasi kepada SMPN 1 Sampit yang telah menciptakan inovasi diera digital yang dapat memberikan kemudahan bagi peserta didik dan guru dengan melibatkan peran serta orang tua untuk ikut memantau dan mengawasi aktivitas belajar anak selama di sekolah.
”SMPN 1 Sampit menjadi pelopor terkemuka di Kotim yang lebih dulu meluncurkan aplikasi berbasis digital. Terima kasih kepada Pak Dwi atas terobosan idenya dan ini tentu tidak lepas dari kerja sama dewan guru dan orang tua,” kata Susilo.
”Saya hanya orang biasa yang berjuang mengabdikan diri untuk SMPN 1 Sampit. yang tanpa pamrih saja dihujat, apalagi yang pakai pamrih. Kita bertukar pikiran dengan ikhlas saja masih dicurigai menggunakan uang komite,” tambahnya merespons ungkapan Kepala SMPN 1 Sampit.
Susilo yang sebentar lagi melepas tanggung jawabnya sebagai Ketua Komite SMPN 1 Sampit mengatakan keprihatinannya akan nasib pembangunan musala di SMPN 1 Sampit yang selama bertahun-tahun tidak selesai. Pembangunan yang dikerjakan menggunakan sistem lelang sebesar Rp 800 juta, ternyata hanya mampu diselesaikan 30 persen dan hingga kini pembangunan belum rampung.
”Mohon maaf, saya capek dipimpong sana sini. Saya miris melihat musala yang belum selesai. Saya sudah ke kesra, diarahkan ke disdik, ke asisten tiga, sampai ke Inspektorat, yang akhirnya pembangunan bermasalah, tidak selesai,” katanya.
Selama dua tahun ia memperjuangkan penyelesaian pembangunan musala, namun belum menemukan solusi. Bahkan, ada anggota DPRD yang menjanjikan dana pokok pikiran (pokir)nya untuk SMPN 1 Sampit sekarang belum terlaksana.
”Saya sudah bertemu Pak Bupati, menyuruh membuat kajian. Mohon maaf, bukan wewenang komite membuat kajian musala yang lagi mandek. Mohon pikirkan musala untuk peserta didik SMPN 1 Sampit, mustahil alumni SMPN 1 Sampit tidak mampu menyelesaikan pembangunan musala,” ujarnya.








