Warga Tionghoa Sampit Sambut Tahun Baru dengan Pernak-Pernik Kelinci 

pernak pernik imlek
PERNAK-PERNIK: Pengunjung saat akan membeli pernak-pernik imlek di Kota Sampit, Selasa (17/1). (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Warga Tionghoa di Kota Sampit mulai bersiap merayakan Tahun Baru Imlek 2023/2574. Mereka  berburu pernak-pernik Imlek.

Salah satu warga Sampit Lia  mulai mencari pernak pernik Imlek untuk dipasang di rumahnya. “Kalau sekarang beli angpao dulu, sambil lihat-lihat pernak pernik yang lain, kalau cocok beli,” ujar wanita keturunan Tionghoa itu.

Bacaan Lainnya

Lia menyebutkan, pernak-pernik Imlek biasanya dipasang bersama anggota keluarga lainnya sebelum tanggal 22 Januari 2023. Ketika makan malam bersama keluarga untuk menyambut Imlek atau Chinese New Year di rumahnya, telah siap dengan berbagai pernak-pernik yang didominasi warna merah dan emas.

“Pernak-pernik yang dibeli biasanya menyesuaikan dengan shio tahun ini, karena setiap tahun shio berganti. Tapi kami juga biasa menggunakan pernak-pernik lama yang ada di rumah, paling nambah sedikit yang baru,” sebutnya.

Mega, pemilik toko yang menjual pernak pernik Imlek di Jalan DI Panjaitan mengatakan, pernak-pernik seperti lampion, lilin, angpao, pohon sakura, hingga kue keranjang selalu menjadi produk yang diburu menjelang Imlek.  Imlek tahun ini merupakan tahun kelinci, tokonya didominasi pernak-pernik shio kelinci. Amplop bermotif tulisan China dengan gambar kelinci juga banyak dijual.

“Pernak-pernik dijual dengan harga bervariasi. Misalnya lampion dari ukuran yang paling kecil Rp 10 ribu sampai yang ukuran sedang Rp 80 ribu, lampion ukuran besar Rp 150 ribu – Rp 180 ribu. Kalau pohon sakura Rp 350 ribu – Rp 400 ribu,” ujarnya.

Tahun baru Imlek identik dengan bagi-bagi angpao. Tradisi ini membuat para pelanggannya banyak yang berburu kertas angpao bergambar kelinci. Mulai dari ukuran kecil hingga yang besar.

“Tergantung selera, ada yang cari angpao yang biasa saja, ada juga yang mencari dengan kualitas bagus. Harganya bervariasi mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 10 ribu. Dulu isinya ada yang 12 lembar, kalau sekarang semuanya sama, isinya enam lembar,” tuturnya.

Tokonya mulai melengkapi pernak pernik Imlek dari bulan Desember atau sekitar satu bulan yang lalu. Aksesoris atau pernak-pernik tersebut ada yang didatangkan dari Pontianak, Surabaya hingga Jakarta.

Selain untuk keperluan pelanggan pribadi, ada juga pelanggan yang membeli pernak-pernik Imlek untuk dekorasi vihara ataupun perkantoran.

“Kebanyakan permintaan dari vihara. Karena setiap tahun vihara dibersihkan dihias, jadi perlu juga pernak-pernik Imlek yang baru,” tuturnya.

Karena pergantian shio setahun sekali, sehingga pernak-pernik bergambar shio yang tidak habis dijual tahun ini disimpan untuk beberapa tahun kedepannya.

“Jadi kalau enggak habis, stok tetap disimpan, buat beberapa tahun lagi,” ucapnya.

Selain menjual pernak-pernik Imlek, toko tersebut juga menjual kue keranjang yang memang wajib ada setiap kali perayaan Imlek. Mega mengatakan, kue keranjang yang dijual di tokonya adalah produksi sendiri yang dijual seharga Rp 18 ribu per 0,5 kilogram.

“Kami terima pesanan, ada juga yang untuk dijual lagi. Kalau di luar harganya sekitar Rp 20 ribu,” terangnya.

Penjualan pernak-pernik Imlek tahun ini tidak begitu berbeda jauh dengan Imlek  saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun yang lalu. Pembelian pernak-pernik hampir sama. Walaupun tidak terima tamu atau open house, namun umumnya warga keturunan Tionghoa tetap melakukan tradisi keluarga, seperti menghias rumah dan bagi-bagi angpao.

“Tidak ada perbedaan, sama saja. Memang ada perbedaan sedikit tapi tidak terlalu kentara, karena mereka tetap menghias rumah, cuman mungkin pada saat pandemi belum berani open house,” ungkapnya.

Pos terkait