SAMPIT, radarsampit.com – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyelenggarakan Lomba Ibu Mendongeng di Gedung Wanita Sampit, Selasa (29/8). Lomba dalam rangka Hari Anak Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia ini diikuti oleh 12 anggota DWP perwakilan berbagai instansi dan satuan organisasi perangkat daerah (SOPD) Kotim.
Ketua DWP Kotim Sepnita Fajrurrahman menyampaikan bahwa mendongeng merupakan salah satu cara untuk memberikan pendidikan karakter kepada anak. Dengan mendongeng, anak-anak dapat mendapatkan nilai budaya, nilai humanis, dan nilai moral.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan dongeng ini, ibu-ibu tersadar bahwa mendongeng adalah cara untuk kita dekat dengan anak,” ujar Sepnita.
Menurutnya dengan mendongeng orang tua bisa memasukkan nilai-nilai yang menjadi pegangan anak-anak hingga dewasa. Seperti orang-orang tua dahulu yang sering membacakan cerita dongeng kepada anak sebelum tidur.
“Dengan mendongeng, keinginan membaca atau berliterasi akan tumbuh di dalam jiwa anak-anak. Banyak pesan pesan moral yang dapat diambil dari mendongeng,” tambahnya.
Saat ini kebanyakan orang tua terlalu dini memberikan gadget kepada anak agar anak tidak rewel. Namun, langkah ini justru menurutnya bisa berdampak buruk terhadap perkembangan anak, terutama dalam bertutur.
“Memberikan gadget terlalu dini untuk anak sangat tidak disarankan, apalagi medsos banyak dampak negatif. Banyak anak tidak bisa dikendalikan karena kesalahan pola asuh, ini yang tidak kita harapkan. Kita ingin mereka menjadi generasi penerus yang memiliki masa depan cemerlang,” harapnya.
Menurutnya, tradisi mendongeng ini bisa diterapkan lagi bagi anak dalam rangka pembentukan karakter. Sesuai dengan tema Lomba Ibu Mendongeng kali ini yakni Menumbuhkan Karakter Anak Melalui Tradisi Mendongeng.
“Kita harus perhatikan benar tumbuh kembang anak, terutama 1000 hari kelahiran. Anak kalau bisa jangan terlalu banyak menggunakan ponsel. Periode emas perlu dimanfaatkan agar generasi kita lebih bagusan, lebih cerdas dan lebih mandiri,” tandasnya.
Sepnita menilai kemampuan bertutur atau public speaking anak-anak saat ini agak kurang. Sehingga pihaknya berniat untuk kedepannya bisa menggelar lomba Mc untuk anak-anak.
“Agar anak-anak bisa bertutur kata yang bagusan, yang enak,” tandasnya.
Dalam lomba tersebut ada tiga orang juri yang menilai penampilan peserta, mereka adalah Elwani Sarwando dari instansi SLB Melati Ceria Sampit, Feriyane, dan Diah N Kusuma yang merupakan seniman sekaligus penulis.
Para peserta Lomba Ibu Mendongeng tampil dengan memukau, beragam tema cerita mereka bawakan, mulai dari tentang persahabatan, perjuangan, cerita rakyat, dongeng tentang kelestarian alam dan lain sebagainya. Para peserta tampil menggunakan kostum menyesuaikan dengan dongeng yang mereka bawakan. Para peserta juga membawa properti untuk mendukung penampilan mereka.
Masing-masing peserta tampil dengan waktu 7-10 menit. Dari 12 peserta yang tampil, juri menetapkan enam orang juara, dan memutuskan Juara 1 Yuni Pratiwi Iskandar (DWP Dinas Perikanan), Juara 2 Karmila Syari (DWP Dinas Pendidikan) Juara 3 Indah Yunita Bayu (DWP Setda Kotim), Harapan 1 Noor Hasanah, Harapan 2 Nia Pitriani Iskandar, Harapan 3 Norwidia Priansiska (DWP Bappelitbangda). (yn/yit)








