SUKAMARA, Radarsampit.com – Debit air yang mulai menyusut membawa berkah tersendiri bagi warga di sekitar Sungai Jelai. Kondisi tersebut menjadi momen yang dinanti para pemancing karena berbagai jenis ikan dan udang mulai banyak berkumpul di alur sungai hingga anak-anak sungai.
Sungai Jelai memiliki panjang sekitar 200 kilometer dengan lebar mencapai 100 meter. Selain berfungsi sebagai jalur transportasi, sungai ini juga menjadi batas alami antara wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar).
Aktivitas warga dari kedua provinsi cukup ramai di kawasan tersebut. Perahu menjadi sarana transportasi sekaligus digunakan nelayan dari Kabupaten Sukamara dan Kabupaten Ketapang untuk mencari hasil sungai.
Kondisi Sungai Jelai yang masih relatif alami turut mendukung keberadaan berbagai jenis ikan air tawar. Minimnya permukiman di sepanjang bantaran membuat habitat perairan tersebut masih terjaga.
Beberapa jenis ikan yang dapat ditemukan antara lain lais, kelabau, baung, batutu, gabus, sepat, saluang hingga udang sungai.
Belakangan, aktivitas memancing mulai meningkat. Warga memanfaatkan perahu maupun lanting sebagai tempat memancing. Waktu favorit biasanya mulai sore hingga malam hari.
“Sekarang musim ikan lais. Banyak warga memancing dari sore sampai malam. Hasilnya lumayan. Yang mencari udang juga mulai ramai,” kata Maruf, warga setempat.
Andre, pemancing lainnya, menjelaskan pola pergerakan ikan berkaitan dengan naik-turunnya debit air. Saat air tinggi, ikan cenderung masuk ke kawasan rawa untuk berkembang biak.
Ketika air kembali surut, ikan bergerak menuju sungai dan anak sungai. Kondisi itulah yang dinilai menjadi waktu terbaik untuk memancing.
“Saat air tinggi, ikan masuk rawa dan bertelur. Setelah surut, ikan kembali berkumpul di sungai dan anak sungai. Saat itu biasanya lebih mudah memancing,” ujarnya.








