SAMPIT, radarsampit.com – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati bersama sejumlah pejabat dan pihak lainnya kembali turun meninjau banjir di Kota Sampit. Salah satunya di SDN 3 Sawahan yang dalam beberapa hari terakhir terendam banjir, Rabu (1/5/2024).
”Pengawasan lapangan itu memang tugas dari seorang wakil bupati dan juga atas perintah Bupati untuk segera turun meninjau ke lapangan, apakah benar kondisinya seperti apa yang dikeluhkan masyarakat,” kata Irawati.
Sejumlah warga sebelumnya memang sempat menyebut nama Irawati saat mengeluhkan kawasannya yang terendam banjir melalui remakan video yang diunggah di media sosial. Keluhan itu sampai langsung ke Irawati.
Menurut Irawati, banjir yang melanda banyak titik di Kota Sampit kali ini merupakan yang terparah. Selain karena hujan deras yang turun hampir setiap hari, juga karena air sungai pasang.
”Jadi banjir ini terparah untuk tahun ini, karena memang salah satunya musim hujan, terus juga air pasang,” sebutnya.
Di samping itu, lanjut Irawati, penyebab banjir karena banyaknya saluran drainase yang tersumbat rerumputan dan sampah. ”Hasil dari peninjauan, ada rumah-rumah warga yang menjorok sampai ke pertengahan alur sungai, sehingga menutup aliran sungai,” katanya.
Irawati melanjutkan, Pemkab Kotim telah melakukan pembersihan dari bagian hulu. Pembersihan itu membuat air lancar mengalir. ”Tetapi, daerah pertengahan (perkotaan, red), seperti Ketapang, Baamang, Sawahan, Pasar Keramat, muara pemuatan itu belum, sehingga air itu akan kembali ke tengah, karena memang di sana masih dangkal,” sebutnya.
Menurut Irawati, hal tersebut dilakukan bertahap. Hal yang dilakukan saat ini adalah penanganan jangka pendek.
”Insya Allah hari Jumat itu akan lanjut gotong royong. Atas perintah Pak Bupati, nanti saya akan bersurat ke dinas terkait dan Kecamatan Baamang maupun Ketapang. Termasuk tadi tokoh masyarakat juga siap membantu untuk gotong royong,” sebutnya.
Paling tidak, kata Irawati, gotong royong yang dilakukan nanti untuk melakukan penambatan terlebih dulu. Lokasinya dari daerah Masjid Jami Nur Qalbu sampai depan Lapas Sampit.
”Terus kita angkat karena memang tertutup dan di sebelah Sungai Tidar, agar arus sungai itu terbagi. Karena seperti pantauan kami, sungai ke Sawahan itu tidak terbagi. Jadi, aliran dari sebelah hulu langsung turun, sedangkan di bawah itu masih ada pendangkalan. Akhirnya air balik lagi ke tengah, karena memang Kelurahan Sawahan itu agak rendah, sehingga air kembali lagi ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Saat meninjau banjir yang merendam SDN 3 Sawahan, untuk penanganan jangka panjang akan dilakukan pengerukan sungai, karena posisi sekolah yang berbatasan dengan sungai.
”Jangka panjang itu adalah bagaimana mengeruk sungai ini. Sungai dikeruk terus dilakukan penyiringan, sehingga tidak lagi terjadi banjir di daerah kita ini, khususnya di Kota Sampit,” tegasnya.
Terkait permintaan pihak sekolah agar kawasan sekolah ditinggikan, menurutnya, merupakan solusi jangka pendek. Hal itu akan ditindaklanjuti dinas terkait.
”Jangka pendek itu ada 90 meter untuk dilakukan peningkatan jalan, tapi saat ini kita fokus bagaimana penanganan banjirnya dulu. Kalau jalanan ditinggikan, kalau masih banjir tidak akan mungkin. Untuk ke depan saya juga sudah meminta ke Dinas PU. Itu akan segera ditindaklanjuti untuk melakukan peningkatan jalan tersebut. Paling tidak ditinggikan, karena tidak sampai satu kilometer. Itu insya Allah akan direalisasikan,” katanya. (yn/ign)








