Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kotawaringin Timur tahun ini menapaki usia 31 tahun. Wadah organisasi wartawan tersebut merayakan dengan menggelar sejumlah kegiatan, salah satunya pelatihan jurnalistik.
HENY-RADO, Sampit | radarsampit.com
Ruang pertemuan Sekretariat PWI Kotim di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Sampit, pagi kemarin (21/8) disesaki sejumlah jurnalis. Mereka terlihat bersemangat mengikuti pelatihan jurnalistik yang digelar sekitar setengah hari tersebut.
Ketua PWI Kotim Siti Fauziah yang menjadi pemateri pertama, mengajak sekitar 35 peserta yang hadir mengingat kembali sejarah singkat berdirinya PWI. Terbentuknya PWI menjadi tonggak perjuangan Indonesia menentang kolonialisme di Tanah Air melalui media dan tulisan.
Tepatnya 9 Februari 1946, PWI resmi berdiri di Solo. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional dan diperingati setiap tahun.
Siti menuturkan, PWI lahir sebagai organisasi yang mewadahi para insan pers di Indonesia yang pertama kali diketuai Mr Sumanang Surjowinoto. Saat ini PWI dipimpin Atal S Depari dengan masa bakti 2018-2023.
Menurutnya, PWI membawa visi sebagai organisasi profesional dan bemartabat di era transformasi lanskap media dengan spirit kebangsaan, kebebasan, dan kreativitas digital. Organisasi ini terus berkembang di seluruh pejuru Indonesia, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Timur.
Pada 13 Agustus 1992, PWI Kotim resmi dibentuk. Sejumlah jurnalis tercatat pernah menjadi pucuk pimpinan organisasi, di antaranya Zulkifli Nasution, Anang Syachwani, HM Baderi, Abdul Naser, Jamridi, Ruslan Abdul Gani, Sallapuddin, Pariyanto, Abdul Hafid, Doni Harjo Saputro, Andri Rizky Agustian, sampai terakhir Siti Fauziah, sosok perempuan pertama yang menjadi Ketua PWI Kotim periode 2022-2025.
Peringatan PWI Kotim yang ke-31 tahun tak hanya menjadi momen perayaan, namun juga memberikan kebermanfaatan bagi para anggota PWI Kotim yang kini terus bertambah dengan kemunculan media baru dan tentunya wartawan baru.
Berdasarkan catatan Radar Sampit, anggota PWI Kotim yang terdaftar di dewan pers berjumlah 38 orang. Ditambah 8 calon anggota PWI Kotim yang masih dalam proses melengkapi berkas persyaratan.
Kebermanfaatan itu dibuktikan PWI Kotim dengan menggelar pelatihan jurnalistik dan lomba menulis feature yang disambut antusias wartawan dari berbagai media yang bertugas di Kota Sampit. Sedikitnya ada 20 wartawan muda yang mengawali karier sebagai ‘pemburu berita’ mengikuti pelatihan ini.
Jika tahun lalu perayaan HUT PWI Kotim ke-30 dirangkai dengan lomba foto jurnalistik, tahun ini pengurus PWI Kotim menggelar kegiatan paket lengkap. Tidak hanya lomba menulis feature, tetapi juga diberikan pelatihan jurnalistik. Hal itu sejalan dengan tugas utama PWI dalam meningkatkan kemampuan, profesionalitas serta pemahaman kode etik wartawan.
Dalam materi bertajuk, ”Keorganisasian dan Keanggotaan”, Siti Fauziah memaparkan tujuan lain dibentuknya PWI, yakni agar terwujudnya kemerdekaan pers, terpenuhinya hak publik dalam memperoleh informasi yang tepat, akurat, dan benar, terwujudnya tugas pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Keanggotaan PWI terdiri dari wartawan Indonesia yang melaksanakan kegiatan jurnalistik dengan menggunakan media cetak, media penyiaran, siber, dan atau saluran lain yang tersedia serta orang yang berjasa kepada organisasi. Keanggotaan PWI bersifat terbuka.
Anggota PWI merupakan wartawan yang bekerja di media yang sudah berbadan hukum, telah mengikuti orientasi kewartawanan dan keorganisasian, serta lulus uji kompetensi wartawan yang meliputi Anggota Muda, Anggota Biasa (lebih 2 tahun dari Anggota Muda), Anggota Luar Biasa (berusia 55 tahun dan sudah aktif selama 25 tahun) dan Anggota Kehormatan.








