Dari Pelatihan Jurnalistik yang Digelar PWI Kotim (3-Habis)

Tajamkan Kepekaan, Kunci Menulis Berita Feature Menarik

pelatihan jusnalistik
PELATIHAN: Pemimpin Redaksi Radar Sampit, Gunawan, saat menyampaikan materi tentang teknik menulis feature di Sekretariat PWI Kotim, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Sampit, Senin (21/8/2023). (HENY/RADAR SAMPIT)

Menulis berita feature memerlukan waktu lebih lama dibandingkan berita langsung (straight news). Penulis dituntut lebih peka untuk mendeskripsikan berita lebih mendalam agar dapat membawa emosi pembaca masuk isi tulisan.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Materi bertajuk ”Teknik Menulis Feature” menjadi materi terakhir yang dibawakan Gunawan, Pemimpin Redaksi Radar Sampit, dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik dan Lomba Menulis Feature yang digelar PWI Kotim, Senin (21/8).

Puluhan peserta belum beranjak dari kursi plastik hijau yang disediakan panitia. Mereka masih betah duduk menunggu ulasan selanjutnya dalam pelatihan yang dilaksanakan dalam rangka HUT PWI Kotim tersebut.

Sebanyak 20 peserta di antaranya merupakan wartawan baru yang belum lama bertugas. Tercatat ada 45 peserta yang hadir, termasuk wartawan senior yang ikut menyimak kegiatan yang dilaksanakan di ruang pertemuan Sekretariat PWI Kotim di Jalan Jenderal Ahmad Yani itu.

Sekitar 30 menit materi itu disampaikan dengan lugas dan santai. Sudah 15 tahun lamanya, Gunawan menjalani profesinya sebagai wartawan. Dia mengawali kariernya sebagai jurnalis Dayak Pos sejak 2008, sembari berkuliah di Universitas Palangka Raya.

Berdasarkan pengalamannya, Gunawan mengatakan, ada banyak tantangan menulis berita feature. Satu berita feature sama nilainya dengan 10 berita straight news ataupun hard news.

”Dalam teorinya, berita feature termasuk berita ringan, tetapi menulisnya tidak seringan yang dibayangkan. Biasanya teman-teman wartawan perlu waktu menulis berita straight news 15-30 menit, tetapi berita feature perlu waktu lebih satu jam. Bahkan ada yang bisa sampai dua jam. Menulisnya juga tidak asal, harus fokus supaya berita yang dihasilkan menarik,” katanya.

Menurut Gunawan, ada empat poin penting dalam menulis berita feature. Di antaranya harus memasukkan unsur 5W + 1 H, namun tidak selalu harus mengikuti rumus piramida terbalik.

”Feature tidak jauh beda yang kawan-kawan tulis dalam straight news. Dalam berita feature juga tetap harus memenuhi unsur 5W+1H yang sudah menjadi standar dalam penulisan berita,” ujar wartawan yang pernah dipercaya sebagai Wakil Ketua PWI Periode 2019-2022 ini.

Feature merupakan karya jurnalistik yang penulisannya menggunakan gaya bahasa sastra, bercerita atau bertutur (story telling). Pada beberapa gaya penulisan, feature mengadopsi gaya penulisan cerpen atau novel.

”Ada sedikit perbedaan berita feature dari dari berita biasa. Menulis feature dibuat dengan runut dengan gaya bercerita, deskripsinya harus kuat yang menjadi salah satu poin penting, tidak jauh beda dengan novel,” katanya.

Meski begitu, dalam penulisan feature tetap merujuk pada kisah yang nyata atau benar-benar terjadi secara (faktual). Opini yang disisipkannya pun berdasarkan fakta. Berbeda dengan novel yang ceritanya bisa diambil kisah fiksi ataupun nonfiksi.

”Tentu saja menulis feature harus sesuai fakta di lapangan. Ada yang bertanya, bukankah berita tidak boleh beropini? Di dalam berita feature bisa beropini asalkan berdasarkan fakta, contohnya mendeskripsikasikan sosok petugas pemadam yang terlihat kelelahan memadam kebakaran lahan, opini yang ditulis hanya sebatas itu. Tidak boleh berlebihan,” katanya.

Poin keempat, pada penulisan feature umumnya mengandung sisi human interest, yakni memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosi seperti menghibur, memunculkan empati, dan keharuan.

”Tantangan menulis feature harus bisa menggugah emosi pembaca. Di situ kita harus bisa mengulas hal-hal yang menarik dengan baik, sehingga pembaca bisa merasakan apa yang kita rasakan. Seolah-olah berada pada momen atau peristiwa yang didiskripsikan dalam isi berita,” katanya.

Pos terkait