SAMPIT, radarsampit.com – Kawasan patung Ikan Jelawat di Kota Sampit pernah berjaya pada masanya. Popularitasnya kini mulai meredup seiring dengan hadirnya lokasi lain yang dinilai lebih nyaman. Meski demikian, lokasi yang sebelumnya dibanggakan menjadi ikon Sampit itu masih jadi pilihan sebagian warga untuk mencari hiburan.
Pantauan Radar Sampit, Sabtu (21/1) sore, kawasan tersebut ramai dikunjungi sejumlah kalangam mulai dari anak muda hingga orang tua yang membawa anak-anaknya.
Kurangnya wahana permainan di tengah area yang luas, membuat anak-anak bermain perosotan di lantai yang miring di dekat tangga menuju patung Jelawat. Ani seorang pengunjung mengaku hampir setiap hari menyempatkan mampir ke kawasan tersebut mengajak anak perempuannya yang masih berusia dua tahun bermain lantai perosotan.
”Hampir tiap hari saya ajak anak kemari. Mau gimana lagi, tempat hiburan anak di Sampit sangat kurang. Jadi, main perosotan di sini terus, yang penting anak senang,” ucap ibu dua anak ini.
Kali ini Ani juga mengajak suaminya menikmati sore sambil memantau anaknya bermain perosotan. Sebagai orang tua, Ani mengaku sebenarnya tidak tega melihat anaknya main perosotan di tempat yang bukan seharusnya.
”Awalnya tak nyaman juga mengajak anak main perosotan yang bukan tempat mainan sebenarnya. Tapi, karena ada banyak anak-anak lain yang main, jadi ikutan saja. Pulang-pulang pakaian anak bisa kotor sehabis ’ngepel’ lantai disini,” katanya seraya bercanda.
Ani berharap Pemkab Kotim dapat menyediakan wahana permainan di kawasan Ikon Jelawat agar anak-anak punya pilihan bermain. ”Arealnya luas dan nyaman buat nongkrong menikmati sore. Kalau ditambah wahana permainan anak yang gratis, bisa dimainkan anak tiap hari, dan tentunya aman, itu lebih baik lagi. Anak-anak jadi betah bermain dan melupakan handphone sebagai sarana bermain,” ujarnya.
Di sisi lain, Ani juga mengkritik kurangnya bak sampah di dekat area parkir. ”Saya terbiasa buang sampah pada tempatnya. Sebelum pulang biasanya makan pentol dulu dekat parkiran. Setelah mau buang bekas makanan, saya bingung mau buang ke mana. Sepanjang area parkir tak ada disediakan bak sampah, masa harus naik tangga lagi ke atas nyari bak sampah,” ungkapnya.
Kawasan Ikon Jelawat diresmikan Supian Hadi, Bupati Kotim Periode 2010-2021 pada 21 Februari 2015 silam. Kurang sebulan lagi, lokasi itu akan berusia delapan tahun. Pamornya kian meredup. Dulunya, lokasi itu ramai dikunjungi masyarakat lokal maupun pendatang.
Kini, tempat yang sejatinya lebih nyaman karena berada di pinggir Sungai Mentaya itu kalah saing dengan kepopuleran Terowongan Nur Mentaya yang diresmikan Bupati Kotim Halikinnor pada 10 Desember 2022 lalu. Ikon Jelawat perlu perhatian dan perawatan agar tak kehilangan pengunjung.
Patung Jelawat yang ada sekarang terlihat kusam dan kurang menarik. Banyak rumput tumbuh pada mulut ikan yang mengangga. Air pancur yang sebelumnya keluar dari mulut ikan, kini tak berfungsi lagi. Terkadang sampah masih ditemukan berserakan.
Ebo, seorang juru parkir mengatakan, kawasan Ikon Jelawat masih kurang penerangan, khususnya pada area parkir dan beberapa titik lainnya. ”Sekitar sebulan lalu ada pemasangan PJU di atas, sudah lumayan membantu meningkatkan jumlah pengunjung. Tapi, sebenarnya areal parkir juga perlu penerangan, paling tidak 2-3 titik agar ketika malam hari, kendaraan pengunjung tetap aman terpantau dan tidak gelap,” ujarnya pria yang jadi juru parkir sejak kawasan itu diresmikan.
Ebo menuturkan, kawasan Ikon Jelawat dibuka mulai pagi sampai pukul 21.30 WIB. Dihitung dari jumlah kendaraan pengunjung yang datang, rata-rata dalam sehari ada sekitar 300-500 pengunjung. Khusus akhir pekan, Sabtu-Minggu, jumlah pengunjung meningkat sekitar 600-800 orang.







