Kunjungan Rocky Gerung bersama Dikki Akhmar ke sejumlah daerah di Kalimantan Tengah membuat publik bertanya-tanya. Semua ia jawab tuntas saat mampir ke kantor redaksi Radar Sampit, Jumat pagi.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Rocky Gerung dikenal sebagai tukang kritik pemerintah. Pria yang berprofesi sebagai seorang akademisi, filsuf, dan pengamat politik ini menginjakkan kakinya ke Kantor Radar Sampit, Jalan MT Haryono, Jumat (2/2/2024) pukul 09.15 WIB.
Dia turun dari mobil hitam bernomor plat KH 111 DA diiringi dua rombongan mobil yang mengiringi. Kedatangan Rocky Gerung dan Dikki Akhmar disambut Direktur Radar Sampit Siti Fauziah dan jajarannya.
Sehari sebelumnya, pria beruban dengan kacamata bingkai hitamnya mendampingi Ketua Forum Diskusi Akal Sehat Indonesia Dikki Akhmar menggelar Diskusi Akal Sehat di GOR Futsal Daeng, Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kamis (1/1/2024).
Pada malam harinya diskusi berlanjut di Linusa Garden, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Rocky juga bersedia melanjutkan diskusinya di kantor Radar Sampit. Namun, karena kesibukannya yang sangat padat, pertemuan yang sedianya dijadwalkan Kamis jam 17.00 WIB diundur menjadi jam19.00 WIB dan ternyata tertunda lagi hingga Jumat pagi.
Selama 56 menit, Rocky dan Dikki dihujani pertanyaan oleh Agus Jaka Purnama, Redaktur Radar Sampit yang biasa berperan sebagai host dalam podcast Radar Sampit.
“Bang Rocky Gerung bisa kita sebut sebagai Wikipedia berjalan atau tabloid intisari. Jadi, saya berharap dalam podcast ini saya bisa mengambil tetesan intisari yang ada dalam pikiran Bang Rocky,” ucap Agus mengawali kalimat pembukanya.
Agus memberikan tiga poin pertanyaan kepada dua tamu podcast special pada pagi itu. Pertama, pandangan Rocky dan Dikki terhadap Kalteng. Kedua, respons masyarakat terhadap situasi politik nasional dan politik di daerah dan ketiga mengenal lebih dekat sosok Rocky Gerung yang dikenal berpikir kritis, senang berdialog dan menginspirasi.
“Bang Rocky dalam beberapa hari ini sudah ke beberapa daerah di Kalteng, saya ingin melihat bagaimana potret Kalteng dari sudut pandang Bang Rocky Gerung,” ujar Agus.
Rocky menjelaskan kedatangannya ke Kalteng bukan untuk memotret, melainkan mengetahui ‘anatomi’ Kalteng.
“Saya tidak memotret Kalteng, tetapi saya ingin mengetahui anatomi Kalteng. Untuk mengenali sesuatu itu harus menggunakan teknik mayotike, artinya mengurai. Dan, itu hanya bisa saya didapatkan melalui pertemuan langsung dengan tokoh masyarakat Kalteng dari kalangan mahasiswa,” ucap Rocky Gerung.
Di sisi lain Rocky tak hanya ingin mengetahui anatomi Kalteng, tetapi juga ingin memperlihatkan kemungkinan adanya suatu perubahan di Kalteng.
“Bukan hanya mengetahui anatomi tapi juga memperlihatkan kemungkinan perubahan dari Jakarta itu harus tiba di Kalteng. Karena, enggak mungkin Kalteng berubah, lalu Jakarta berubah. Kalteng berubah tergantung dari perubahan politik pusat. Itu dasarnya,” ucap pria kelahiran Manado, 20 Januari 1959 ini.
Rocky mengatakan ada semacam keinginan menghubungkan potensi Jakarta dengan kondisi yang ada di Kalteng, karena itu ia diajak Dikki menginjakkan kaki ke Kalteng.
“Kalau orang-orang bertanya, Rocky Gerung kok ikut-ikut semacam menjadi promotor tim sukses Dikki, itu kan pertanyaan yang Anda simpan sebenarnya? Saya menemani Dikki karena saya kenal dan memang memungkinkan untuk dia jadi wakil rakyat Kalteng, ‘membedah’ Kalteng supaya hasilnya itu bisa tiba di Jakarta melalui parlemen,” ucap pria berumur 65 tahun ini.
Menurutnya, semua program politik harus diselesaikan dalam ‘pertengkaran’ politik di Senayan. “Nah, Pak Dikki Akhmar ini Caleg DPR RI Nomor 1 dari PKS yang saya tahu cara berpikirnya. Kalau yang lain, saya enggak tahu, ngapain saya temani?,” ujarnya.








