Kecelakaan Meningkat, Dewan Kotim Desak Sopir Truk CPO Dites Narkoba

hairis salamad
Hairis Salamad (Antara)

SAMPIT, radarsampit.com – Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Hairis Salamad mendesak agar semua sopir truk angkutan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dilakukan tes narkotika. Hal ini seiring meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan angkutan tersebut.

”Saya minta dinas terkait agar bagaimana sopir truk CPO dilakukan tes narkotika, karena penyebab laka lantas di jalan umum saat ini adalah truk CPO. Jadi, ini harus ada langkah konkret pemerintah melindungi rakyatnya,” kata Hairis Salamad, Selasa (21/5/2024).

Bacaan Lainnya

Hal dia sampaikan sehubungan dengan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Desa Bajarau, Kecamatan Parenggean, antara pengendara motor dan truk CPO pada Minggu siang. Peristiwa tersebut menyebabkan pengendara motor, yakni pasangan suami istri dan anaknya yang masih balita meninggal dunia, sementara anak sulungnya mengalami luka-luka.

Politikus Partai Amanat Nasional tersebut mengaku telah mengecek langsung ke lokasi kecelakaan bersama Kapolsek setempat. Dia miris melihat kondisi korban. Menurutnya, kejadian seperti itu tidak boleh dianggap sepele dan harus ada tindakan nyata dari pemangku kepentingan untuk mencegah kejadian tersebut terulang.

Baca Juga :  Truk Sawit Tanpa Jaring Pengaman, Bahayakan Pengguna Jalan

”Saya turun  ke lokasi dan merasa sangat riskan sekali melihatnya. Bagaimana kalau kejadian seperti itu menimpa keluarga kita? Siapa yang jadi tumpuan masyarakat untuk mengadu? Makanya, saya minta Polres membuat surat imbauan atau edaran,” kata Hairis.

Dia meminta Polres Kotim membuat surat edaran kepada pemangku kepentingan. Baik instansi pemerintah daerah, organisasi angkutan darat (organda), perusahaan kelapa sawit, dan lainnya yang menggunakan kendaraan untuk mengangkut barang.

Hal itu sebagai upaya mendisiplinkan dan menguji kembali kelayakan sopir masing-masing. Bahkan, bila perlu dilakukan tes urine sebulan sekali atau paling tidak tiga bulan sekali, untuk memastikan para sopir yang beraktivitas di jalanan bebas dari pengaruh zat-zat terlarang.

Apalagi berdasarkan informasi yang dia terima, para sopir angkutan, khususnya CPO, kerap menggunakan zat-zat terlarang dengan alasan agar tidak mengantuk ketika bekerja atau sebagai doping. Padahal, penggunaan zat terlarang memberikan efek negatif bagi penggunanya.



Pos terkait