SAMPIT, radarsampit.com – Fenomena kemarau basah akibat La Nina sedang melanda sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Hal inilah yang menyebabkan curah hujan masih cukup tinggi meski sudah memasuki musim kemarau.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Haji Asan Sampit Musuhanaya melalui Prakirawan Cuaca BMKG Kotim Rahmat Wahidin Abdi mengatakan, berdasarkan analisis curah hujan yang tercatat dari Agustus dasarian pertama, Kotim memasuki musim kemarau yang dimulai Juli dasarian II. Namun, berakhirnya musim kemarau masih belum bisa diprediksi, karena cuaca yang bersifat dinamis.
”Dalam seminggu ke depan, cuaca diperkirakan masih didominasi hujan ringan hingga sedang pada siang hingga sore. Untuk akhir musim kemarau belum dapat kami tentukan, karena akhir kemarau itu artinya memasuki awal musim hujan. Sampai saat ini awal musim hujan belum dirilis secara resmi,” kata Rahmat, Jumat (26/8).
Rahmat menjelaskan, fenomena kemarau basah yang terjadi di Kotim tahun ini dapat disebabkan salah satunya karena La Nina (fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, Red). Fenomena ini dapat terjadi akibat adanya penumpukan massa air di bawah permukaan Samudera Pasifik yang lebih dingin dibandingkan kondisi normal.
”Cuaca dapat berubah kapan saja karena sifatnya dinamis. Ada banyak faktor yang menyebabkan perubahan cuaca, salah satunya bisa disebabkan karena La Nina, sehingga mengakibatkan kemarau basah seperti yang terjadi tahun ini. Sudah memasuki musim kemarau, tetapi tetap ada hujan meskipun hujannya tidak ekstrim,” jelasnya.
Rahmat mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, curah hujan lebih intens terjadi dapat disebabkan karena adanya siklon di wilayah utara Indonesia yang mengakibatkan timbulnya area pertemuan angin di wilayah Kalimantan, sehingga sering terjadi hujan di wilayah Kota Sampit dan sekitarnya.
”Perlu dipahami, saat musim kemarau belum tentu tidak terjadi hujan. Tetap ada kemungkinan terjadi hujan, tetapi intensitas curah hujannya lebih rendah dari bulan-bulan pada musim hujan,” ujarnya.
Meskipun Kotim mengalami kemarau basah, BMKG Kotim mencatat masih ditemukan titik panas di wilayah Kotim sebanyak 138 titik yang terhitung dari Januari – 17 Agustus 2022. Temuan hotspot terbanyak terjadi pada Mei 2022 lalu sebanyak 44 titik yang dipantau berdasarkan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
”Wilayah Kotim masih berpotensi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Daerah rawan dapat terjadi di wilayah Kecamatan Antang Kalang, Teluk Sampit, Bukit Santuai, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara,” ujarnya.
Rahmat menambahkan, intensitas curah hujan yang terjadi pada Agustus tidak berpotensi banjir. ”Karena dilihat dari curah hujan yang terjadi rata-rata masih normal. Namun, ini tergantung durasi hujannya. Diharapkan hujan ini tidak sampai menimbulkan banjir, tetapi membantu mencegah karhutla,” tandasnya. (hgn/ign)








