Menebar Kebaikan dengan Taat Iuran

Oleh Heru Prayitno

JKN
Penderita thalasemia yang sedang menjalani transfusi darah di RSUD dr Murjani Sampit, belum lama ini.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Petuah bijak ini dijalankan betul oleh Triwahyudi. Salah satu implementasinya adalah tertib membayar iuran program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN.

”Saya selalu rutin membayar iuran sejak 2016, meski belum pernah menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk berobat,” ungkap pria yang bekerja sebagai petani kelapa sawit di Kecamatan Mentobi Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, Selasa (30/8).

Triwahyudi beserta istri dan tiga anaknya mengikuti program JKN segmen mandiri kelas III sejak tahun 2016. Kini, iuran keluarganya sebesar Rp 175 ribu per bulan. Baginya, program JKN-KIS sebagai bentuk kepedulian kepada sesama di bidang kesehatan.

”Selain untuk antisipasi kalau-kalau harus berobat dengan biaya yang cukup besar, iuran yang dibayarkan setiap bulan merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama peserta JKN yang sedang sakit. Jadi, rutin iuran setiap bulan bukanlah pekerjaan sia-sia,” kata Triwahyudi yang tinggal di Mentobi Raya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Krusialnya disiplin membayar iuran JKN juga dipahami Sadirman. Dia bersama istri dan dua anaknya tertib membayar iuran, walaupun tak pernah sakit dan berobat ke fasilitas kesehatan. Tempat tinggal yang jauh dari kota bukan masalah bagi Sadirman untuk menyetor iuran sebesar Rp 140 ribu per bulan untuk empat orang.

”Saya setor setiap tanggal muda lewat Kantor Pos Parenggean. Bisa juga lewat bank,” kata Sadirman, pengusaha warung sembako di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringan Timur, Kalimantan Tengah.

Hidup di desa tak membuat Sadirman berwawasan sempit. Dia memandang program JKN  memberikan dampak positif bagi sosial dan ekonomi. Di antaranya, memperpanjang angka harapan hidup dan meningkatkan angka partisipasi sekolah.

”Kalau uang habis untuk berobat, bagaimana kita bisa menyekolahkan anak,” tutur Sadirman.

Berbuat baik untuk orang lain juga dilakukan pasangan suami istri Yohannes Djoni Hasan dan Renny Septio Dewi. Tak hanya tertib membayar iuran JKN, pasutri ini menyediakan rumah singgah bagi penderita thalasemia di Jalan Batu Granit, dekat RSUD dr Murjani Sampit. Rumah itu disewa Rp 6 juta per tahun sejak Mei 2021 lalu. Ukurannya tak begitu besar, namun bisa menampung tiga pasien plus pendamping.

”Biaya transportasi untuk bolak-balik mengantarkan anak ke rumah sakit itu tidak sedikit. Apalagi yang tinggal di pelosok, perlu waktu lima – enam jam untuk datang ke RSUD,” ucap Yohanes.

Pasutri yang tinggal di Sampit ini bukan warga kalangan atas. Yohanes sebagai wirausaha dan istrinya sebagai ibu rumah tangga. Meski hidup pas-pasan, keduanya masih bisa menebar kebaikan. Tak jarang keduanya rela merogoh kocek untuk membantu para penyadang thalasemia yang kesusahan akomodasi, kesusahan urusan administrasi kesehatan, dan lain-lain.

”Bagi kami, kekayaan terbesar dalam hidup itu adalah kesehatan. Ujian hidup kami yang mengubah diri kami, bukan untuk mengejar kekayaan, tetapi memberikan kebaikan sebanyak-banyaknya untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan,” ujarnya.

Tak hanya peserta mandiri yang memandang betapa bermanfaatnya JKN, tapi juga perusahaan swasta. Anwaryono selaku Humas PT Uni Primacom menyatakan perusahaan kelapa sawit tempatnya bekerja mengikutkan 3.000 pekerja ke dalam program JKN. Langkah ini bukan hanya untuk menunaikan amanah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial, tapi juga demi kepentingan perusahaan dan pekerja.

”Karyawan yang sakit ditanggung JKN. Pengeluaran perusahaan untuk kesehatan karyawan menjadi lebih terukur,” kata Anwaryono.

Pos terkait