Pabrik Pakan Ternak di Kotim Sedot Anggaran Rp 3 Miliar

Bupati Kotim Halikinnor
WAWANCARA: Bupati Kotim Halikinnor didampingi Wabup Kotim Irawati, Kepala Dinas Pertanian Kotim Sepnita dan Camat Kecamatan Telawang Siagano. (YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, RadarSampit.com – Pembangunan pabrik pakan ternak diharapkan terealisasi tahun 2023 mendatang. Anggaran pembangunan pabrik tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kotim dengan nilai Rp 3 miliar.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, pemerintah provinsi berencana membangun pabrik pakan ternak di sekitar Simpang Sebabi Kecamatan Telawang, namun masih melihat perkembangan kedepannya. Sementara itu terkait pabrik pakan ternak juga sudah dibahas Halikinnor dengan tim anggaran, bahwa pemkab tetap akan membuat pabrik pakan ternak yang dikelola oleh kabupaten.

Bacaan Lainnya

“Kita tetap membuat pabrik pakan ternak yang dikelola oleh kabupaten, kita anggarkan Rp 3 miliar dari APBD, semoga tahun depan sudah bisa terealisasi,” harapnya.

Halikinnor menuturkan, pemerintah berupaya agar harga pakan ternak di pasaran bisa tetap stabil. Oleh karena itu dengan adanya pabrik pakan ternak di wilayah bisa menjadi solusi dari tingginya harga pakan yang sering dikeluhkan oleh para peternak

Baca Juga :  Ucapan Doa dan Kue Ulang Ulang Tahun Masih Berdatangan

“Dengan adanya pabrik pakan ternak di wilayah ini tentunya dapat membantu para peternak, apalagi Kotim memiliki sumber bahan baku yang banyak,” ucapnya.

Pabrik pakan ternak yang di kelola kabupaten diharapkan tetap memperhatikan kualitas dengan harga yang terjangkau, sehingga dapat membantu meringankan beban para peternak. Dengan harapan hasil ternak  di Kotim bisa meningkat yang berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pemkab Kotim sendiri telah berkomitmen untuk meningkatkan sektor perternakan sebagai langkah meningkatkan ketahanan pangan di wilayah ini. Namun, tingginya harga pakan sering kali menjadi kendala bagi peternak.

Menurutnya harga pakan yang mahal membuat biaya produksi tinggi, otomatis berdampak pada harga jual yang harus disesuaikan. Kondisi ini membuat peternak lokal kalah saing dengan peternak dari luar daerah yang memasok hasil produksinya ke wilayah ini, dengan harga yang lebih murah.

“Kita selama ini kalah saing masalah pakan. Sehingga peternak dari luar itu berani banting harga lebih murah,” tandasnya.

Pos terkait