Panti Sosial Patmos Lamandau menjadi wadah bagi warga yang mengalami berbagai masalah kehidupan. Panti ini juga mengajarkan kepada semua orang, bagaimana cara memanusiakan seseorang yang dianggap terbuang. Ironisnya, misi kemanusiaan itu masih kerap tak dianggap, mengingat panti ini pernah kehabisan beras.
RIA MEKAR ANGGREANY, Nanga Bulik | radarsampit.com
Bagi yang belum pernah, mungkin cukup sulit untuk menemukan letak panti asuhan “spesialis” anak berkebutuhan khusus ini.
Di Jalan Bukit Hibul Timur, kita harus masuk jalan yang cukup sempit yang hanya bisa dilewati satu mobil dari samping dealer kendaraan.
Setelah masuk sekitar dua ratus meter, kita akan menemukan sebuah bangunan batako bertingkat dua yang belum selesai. Di bangunan sederhana inilah Panti Patmos Lamandau berada.
Yayasan Patmos Lamandau, satu-satunya panti di Kalimantan Tengah secara khusus merehabilitasi anak berkebutuhan khusus.
Yayasan ini juga mulai merintis sekolah khusus swasta. Anak-anak tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Ketua yayasannya, Rosa, merupakan guru PNS di Sekolah Khusus (SKH). Dia berpengalaman mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
Memiliki visi untuk membantu anak-anak ini menjadi mandiri dan memiliki kemampuan untuk hidup secara normal di tengah masyarakat.
Terkadang ia juga dipanggil ke polres untuk menjadi penerjemah isyarat saat jumpa pers untuk membantu penyandang tunarungu memahami berita yang ditampilkan di televisi.
Saat dikunjungi, Rosa sedang bersama anak-anak asuhnya membuat kerajinan tangan dari kain perca.
Namun, bahasa tubuh anak-anak ini sedikit berbeda dari anak kebanyakan. Ada yang selalu bergumam tiada henti, ada yang berteriak, ada yang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Ada pula yang sibuk dengan kain, jarum, dan benang tanpa bersuara.
”Harap maklum, ya,” ujar Rosa.
Rosa menceritakan, anak yang ditampung adalah anak berkebutuhan khusus, anak miskin, autis, anak yang ditelantarkan, hingga anak yang berhubungan dengan kasus hukum seperti korban pelecehan seksual, KDRT hingga penderita ODGJ.
”Jadi, panti kami tidak hanya menerima anak berkebutuhan khusus saja. Tapi juga anak yatim piatu, anak yang ditelantarkan, anak yang hidup sebatang kara, ODGJ, semua akan kami terima,” kata Rosa.
Rosa menuturkan, panti yang didirikan sejak tahun 2017 ini bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Anak-anak yang tinggal di panti ditampung secara gratis. Semua akan diterima tanpa memandang suku, agama ataupun ras.
”Tapi, karena sifatnya sosial, nonprofit, sebagian besar operasional ditanggung saya sendiri dan sejumlah donatur dari masyarakat yang peduli,” jelasnya.
Dia menuturkan, saat ini ada total 20 anak asuh yang tinggal di panti. Dulu bahkan sampai 30 orang. Namun, jika sudah berhasil sembuh atau ada rekomendasi kepolisian, ada yang pulang atau dikembalikan ke keluarganya. Ada pula yang sudah sampai usia dewasa tetap tinggal di panti karena ODGJ dan hidup sebatang kara.
Menariknya, ia menolak dengan tegas jika ada orang yang ingin mengadopsi anak asuhnya. Dia khawatir jika yang mengadopsi nantinya kurang bertanggung jawab. Bahkan, tak jarang ada yang mengiming-imingi uang untuk membeli anak, dan ia dengan tegas menolak.
”Ini manusia, tidak boleh dijual. Saya ingin mereka dididik bisa sampai mandiri, sampai bisa dilepas di masyarakat. Kecuali ada keluarganya, bisa dikembalikan kalau keluarganya menginginkan. Tapi, tidak membuka untuk diadopsi. Ada yang sampai mau membeli harga mahal, tapi saya tidak mau,” ungkapnya.








