SAMPIT – Renovasi Gerbang Sahati di Jalan Tjilik Riwut depan Stadion 29 November menuai kritikan publik. Proyek itu dinilai belum terlalu mendesak dilaksanakan. Keputusan pemerintah memaksakan renovasi yang membuat lalu lintas terganggu dianggap tidak tepat dilakukan di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir.
”Gerbang itu masih kokoh dan masih bisa untuk beberapa tahun ke depan, sedangkan pandemi dan masyarakat terdampak harus segera ditangani. Sangat disayangkan. Saat masyarakat kesulitan ekonomi, pemerintah malah menghabiskan banyak anggaran untuk perbaikan gerbang yang belum diperlukan,” kata Hendra Sia, Sekretaris Komisi I DPRD Kotim, Selasa (31/8).
Legislator Partai Perindo ini menuturkan, selain pandemi yang tak kunjung berakhir, masyarakat juga dihadapkan dengan bencana banjir yang merendam sejumlah sekolah dan fasilitas kesehatan. Akan lebih baik jika anggaran tersebut dialihkan untuk penanganan bencana.
”Lebih baik anggaran itu digunakan untuk membantu masyarakat yang kesusahan atau bisa dibuat untuk perbaikan infrastruktur di desa yang belum merasakan pembangunan, karena selama ini pembangunan selalu terfokus di kota. Betapa menyedihkan masyarakat perdesaan merasakan jalan lumpur, sedangkan di kota gerbangnya megah,” ujarnya.
Pelaksana lapangan renovasi Gerbang Sahati Didi Riadi mengatakan, proyek itu ditargetkan selesai sekitar tiga bulan. Gerbang itu akan dirombak sekitar 50 persen dari bentuk awal. Bangunan sebelumnya dibongkar hingga 50 persen lantaran tonasenya yang cukup berat.
”Kalau saya lihat memang harus dibongkar karena tonasenya berat, sehingga mengurangi dan mengefisienkan bangunan tersebut,” jelasnya.
Anggaran pembangunannya yang menghabiskan sebanyak Rp 697 juta, dinilai sesuai dengan bentuk gerbang yang diinginkan Pemkab Kotim. Pada desain baru gerbang akan ada penambahan ornamen dengan maskot ikan jelawat.
Terpisah, tokoh masyarakat Kotim Muhammad Zais mengkritik penamaan gerbang itu. Nama gerbang harus diganti dengan motto Kabupaten Kotim. ”Kami mengusulkan bukan diberi nama Gerbang Sahati, tapi Gerbang Habaring Hurung. Sesuai motto Kotim, lengkap dengan balanga, telawang, lunju, mandau, langgei, dan duhung,” ujar Zais.
Dia juga tak sepakat dengan rencana pembuatan ornamen ikan jelawat di atas gerbang. Bagi masyarakat lokal, hal itu dinilai tidak tepat. Apalagi dari sisi historisnya, Kotim tidak ada berkaitan dengan jelawat. Akan lebih baik di atas gerbang dipasang burung tingang sebagai simbol masyarakat Suku Dayak.
”Kami berharap pemerintah bisa mengevaluasi rencana tersebut dengan mengubah nama gerbang hingga pada simbol ikan jelawat menjadi burung tingang,” kata mantan Damang Kepala Adat Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ini.
Menurut Jais, ada kerinduan masyarakat lokal melihat lambang khas Suku Dayak bisa eksis kembali di tengah gempuran arus globalisasi saat ini. Apalagi simbol Dayak, seperti balanga, mandau, tombak, tameng, dan lainnya, jarang dipajang pada fasilitas umum dan bangunan milik pemerintah daerah.
”Kami sebagai bagian dari masyarakat lokal menginginkan itu dihidupkan kembali sebagai identitas daerah. Bukan ikan jelawat,” tandasnya.
Sebelumnya, Pemkab Kotim menghabiskan anggaran sebesar Rp 697 juta untuk perbaikan Gerbang Sahati di Jalan Tjilik Riwut, kawasan Stadion 29 November. Agar perbaikan maksimal, ruas tersebut ditutup sementara. Pengguna jalan diminta menggunakan jalur alternatif yang disediakan.
Perbaikan Gerbang Sahati dikerjakan CV Usaha Jaya Bersama selaku penyedia jasa dan CV Katiga Rancang Utama sebagai konsultan pengawas. Sesuai dokumen perjanjian kontrak kerja, pekerjaan dilaksanakan pada 3 Agustus – 1 Desember 2021.








