SAMPIT – Warga asal Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ditemukan ada yang masuk kategori sasaran drop out (DO) vaksin Covid-19. Hal itu disebabkan karena belum melakukan vaksinasi dosis kedua dengan rentang waktu melebihi enam bulan.
”Sudah vaksin dosis pertama, sekitar September 2021 lalu. Sampai sekarang belum vaksin dosis 2. Mau lanjut vaksin, ragu-ragu karena setelah vaksin menimbulkan efek gatal-gatal sampai sekarang. Makanya, belum berani vaksin lanjutan,” kata Leny, warga Baamang.
Leny ingin melanjutkan vaksinasi dosis 2, namun setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di puskesmas setempat, dia disarankan melakukan vaksinasi ulang. Pasalnya, vaksinasi sebelumnya telah melampaui batas enam bulan.
”Mau lanjut vaksin dosis kedua, ternyata saya harus vaksin ulang, karena lewat dari enam bulan dari vaksin dosis pertama,” katanya.
Keraguan mengikuti vaksinasi juga dialami Faisal, warga lainnya. Dia belum melakukan vaksin dosis ketiga. ”Vaksin dosis 1 dan 2 sudah. Dosis 3 yang belum. Mau vaksin masih ragu, karena lihat teman efeknya ada yang sampai sakit,” katanya.
Sebagai informasi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kemenkes Nomor SR.02.06/11/921/2022 per 13 Februari 2022 lalu. Dalam SE tersebut, Kemenkes mencatat ada 2,4 juta warga yang di drop out dan diwajibkan vaksinasi ulang, karena telah melebihi enam bulan dari rentang waktu vaksin dosis pertama.
Kepala Puskesmas Baamang II Sampit Desliana Eka Maulitita mengatakan, masyarakat yang mengalami drop out melebihi enam bulan, wajib mengulang dosis 1 dan dapat menggunakan merek vaksin berbeda dari semula.
”Sesuai edaran Kemenkes, sasaran yang mengalami drop out kurang dari enam bulan dari rentang waktu dosis pertama, tetap dapat diberikan vaksin dosis kedua bisa dengan merek yang berbeda sesuai ketersediaan vaksin di Kotim,” ujarnya.
”Ada banyak warga yang bertanya, untuk apa pengulangan vaksin? Pengulangan vaksin bertujuan untuk memaksimalkan pembentukan antibodi dalam tubuh, karena ketika sudah melebihi enam bulan dari jarak suntikan pertama, antibodinya sudah tidak maksimal,” tambahnya.
Desliana menuturkan, mengingat saat ini distribusi vaksin merk Sinovac jumlahnya terbatas, maka peruntukkan vaksin Sinovac hanya bagi anak usia 6-11 tahun. Warga yang mengalami drop out vaksin dapat menggunakan vaksin merek berbeda dengan mengutamakan vaksin yang memiliki masa kedaluwarsa terdekat.
”Untuk sekarang, vaksin Sinovac hanya diberikan pada anak-anak usia 6-11 tahun. Untuk dewasa dari usia 18 tahun ke atas, diberikan vaksin merek lain, seperti Astrazeneca, Moderna, dan Pfizer,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Umar Kaderi mengatakan, pihaknya belum menemukan masyarakat yang mengalami drop out.
”Dari data yang ada, kami belum menemukan masyarakat yang rentang waktu vaksinasinya melebihi dari enam bulan. Namun, kami tetap mengimbau agar masyarakat lebih memperhatikan jadwal waktu vaksin dosis primer dan dosis booster minimal enam bulan setelah dosis primer dilakukan,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes Kotim, Umar mengatakan, sasaran vaksinasi Covid-19 di Kotim berjumlah 328.727 orang yang terbagi dalam tujuh kategori yakni kategori nakes sebanyak 2.845 orang, lansia sebanyak 20.786 orang, pelayan publik 34.253 orang, masyarakat sebanyak 223.892 orang, remaja 46.951 orang, anak-anak sebanyak 44.295 orang, dan vaksinasi gotong royong.
”Capaian vaksinasi Covid-19 dosis satu sudah mendekati 100 persen diangka 317.481 atau 96,80 persen, dosis dua sebanyak 241.652 atau 73,51 persen dan dosis tiga sebanyak 42.344 atau 12,88 persen,” pungkasnya. (hgn/ign)








