Tanah Banyak Dimiliki Orang Kaya, tapi Jalan Ini Dibiarkan Rusak

jalan rusak
DIBIARKAN RUSAK: Kondisi Jalan Walter Condrat Utara yang masih tanah berkubang.

Berada di tengah-tengah Kota Sampit tak menjamin infrastruktur jalan nyaman dilewati pengendara. Jalan Walter Condrat, misalnya. Kondisi antara Walter Condrat Utara dan Selatan sangat kontras.

HENY, Sampit

Bacaan Lainnya

Jalan Walter Condrat Utara belum beraspal. Sedangkan Jalan Walter Condrat Selatan sudah mulus. Batas jalan mulus dan rusak berada di persimpangan Hasan Mansur.

Walter Condrat Selatan memang sudat padat penduduk dan perekonomian tumbuh pesat. Banyak pertokoan dan aneka usaha lainnya.

Jalan Walter Condrat Utara masih berupa tanah dengan sedikit bebatuan. Ditemukan lebih dari 10 titik jalan berlubang dipenuhi kubangan air. Jalan ini tembus sampai ke Jalan Samekto.

Genangan air itu akan terus ada selama musim hujan masih intens mengguyur Kota Sampit. Hal inilah yang membuat jalan tak sepenuhnya bisa dilewati. Untuk menghindari kubangan air, pengendara motor harus melewati spot jalan kering yang sempit.  Sementara, bagi pengendara mobil, mau tidak mau kubangan air itu dilewati karena sempitnya jalan tersebut.

Lebar Jalan Walter Condrat yang semestinya memiliki lebar 5 meter kini terus menyempit dan tersisa hanya kurang lebih 2,5-3 meter. Sisanya tergerus oleh fungsi parit yang terus melebar, karena belum dibuat siring atau drainase disetiap bagian sisi kanan dan kirinya.

Sementara itu, dilihat dari perkembangan penduduk di Jalan Walter Condrat Utara masih lambat. Perumahan warga berjarak, sebagian masih berupa tanah kosong yang tidak terawat dan adapula yang dijadikan lahan perkebunan. Kurang lebih 50 meter terdapat gang-gang kecil yang di dalamnya nampak bangunan perumahan warga. Namun, tetap tak seramai di Jalan Walter Condrat arah selatan.

Ivan (54) warga yang tinggal di Jalan Walter Condrat arah utara persis disudut Gang Dama mengungkapkan Jalan Walter Condrat ke arah utara ini sudah puluhan tahun dibuka pertama kali oleh Kolonel TNI (Purnawirawan) Didik Salmijardi Bupati Kotim periode 1995-2000.

”Dahulu di sini masih hutan, warga yang buat jalan setapak. Lalu, zamannya Bupati Pak Didik beliau membuka jalan. Setelah itu dilanjutkan oleh Pak Wahyudi Kaspul Anwar,” kata Ivan warga yang tinggal sejak tahun 1997 di Jalan Walter Condrat arah utara.

”Padahal tanah sini yang punya banyak orang kaya. Ada orang pengusaha tinggal di Jakarta, ada pejabat Dinas PUPR, dan termasuk ada tanah Pak Wahyudi juga disini. Tetapi, buktinya meskipun pemilik tanah yang punya orang kaya, jalanan juga enggak bagus-bagus juga selama puluhan tahun ini,” tambahnya.

Di tahun 2005 lalu, Wahyudi Kaspul Anwar yang pada masa itu menjadi Bupati periode 2000-2010, membangun peningkatan Jalan Walter Condrat berupa tanah laterit campur batu koral.

“Dulu itu jalan masih lebar, masih tanah laterit bebatuan dan ada dibuat gorong-gorong juga. Setelah, itu sampai dengan sekarang tidak ada peningkatan jalan sama sekali yang dilakukan pemerintah,” ucapnya.

Selama 16 tahun  Jalan Walter Condrat ke arah utara semakin menyempit dan warga yang selama ini tidak pernah mengalami kebanjiran mulai mengalami kebanjiran apabila terjadi hujan deras.

“Jalan Walter Condrat ini pada dasarnya datarannya tinggi dan tidak pernah banjir. Dalam lima tahun terakhir ini kami sering menerima banjir kiriman. Kalau sudah terjadi hujan deras aliran air dari Jalan Arjuno dan Hasan Mansur lewat sini, sehingga parit ini tidak mampu menampung debit air yang masuk membuat air menggenang sampai ke jalan,” ujarnya.

Sebelumnya, beberapa tahun lalu pihak Ketua RT setempat melaporkan keluhan banjir. Parit yang dulunya hanya selebar 50 cm, dilebarkan menjadi 1-1,5 meter agar banjir tak menggenang sampai ke jalan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *