”Kami tetapkan status tanggap darurat banjir sejak 12 November. Sekarang ada 17 kelurahan tercatat terendam dan sekitar sembilan ribu jiwa terdampak. Status tanggap darurat ini berlaku selama 14 hari atau sampai 25 November 2021. Setelah itu pemerintah daerah akan mengevaluasi menyesuaikan kondisi bencana alam,” ujarnya.
Fairid menegaskan, penanganan banjir dilakukan dengan segera saat bencana terjadi untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan. Upaya itu meliputi, penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana, dan sarana.
Pantauan Radar Sampit, luapan air semakin meluas, terutama di kawasan Mendawai. Warga silih berganti dievakuasi ke posko banjir. Sebagian warga lainnya mengungsi ke rumah kerabat. Banjir di lokasi itu juga merendam Pasar Kahayan, sehingga aktivitas perekonomian terganggu.
Windi (25), salah seorang warga Mendawai mengatakan, banjir tersebut merupakan terparah yang pernah terjadi di lokasi tersebut. Selama ini air hanya merendam halaman rumahnya. Namun, kali ini sampai masuk ke rumah. Dia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang tak terdampak banjir. (daq/ign)








