Banjir Lumpuhkan Pelayanan Desa Kumpai Batu Bawah

JEMBATAN DARURAT: Warga Desa Kumpai Batu Bawah, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar saat bergotong royong membuat jembatan darurat di atas jembatan jalan desa yang terendam air, Sabtu (11/9). (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN – Banjir luapan Sungai Arut dan Sungai Lamandau di tiga kecamatan di Kotawaringin Barat (Kobar) semakin meluas, hujan deras yang tidak berhenti sejak malam hingga pagi hari ini (kemarin) melumpuhkan pelayanan administrasi di Desa Kumpai Batu Bawah (KBB), Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Kantor Desa KBB yang lokasinya tak jauh dari saluran primer dengan muara Sungai Arut tersebut tergenang air hingga masuk ke seluruh ruangan kantor desa. Akhirnya layanan adiminstrasi dipindah ke rumah kepala desa setempat.

Bacaan Lainnya

Kondisi Desa Kumpai Batu Bawah yang wilayah administratifnya hanya 15 menit dari Kota Pangkalan Bun itu hampir sepenuhnya terdampak banjir dengan ketinggian hingga lutut orang dewasa. Bahkan, jalan-jalan dalam permukiman penduduk juga sudah tergenang, begitu pula dengan rumah-rumah penduduk.

Mirisnya lagi, desa yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani itu juga terancam rugi besar karena hampir seluruh areal pertanian dan perkebunan terendam banjir. Warga berharap agar pemerintah dapat memberikan bantuan bibit, pupuk, dan obat tanaman untuk meminimalisir kerugian.

Kepala Desa Kumpai Batu Bawah, Kecamatan Arsel, Kabupaten Kobar, Bambang Silih Warno menyampaikan bahwa akibat banjir yang terjadi sebanyak 725 Kepala Keluarga terdampak banjir. “Hampir seluruh areal pertanian yang ada di desa kami juga sudah terdampak, begitu pula pelayanan di kantor desa sudah lumpuh, dan pelayanan untuk masyarakat kita pindahkan ke rumah saya,” ujarnya, Sabtu (11/9).

Ia juga menyebut, karena saat ini ketinggian air semakin meningkat, pemerintah desa setempat juga telah meliburkan satuan pendidikan setingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Di lokasi musibah banjir, Bambang Silih Warno juga mengungkapkan bahwa banjir saat ini juga telah merendam jembatan penghubung untuk menuju Kota Pangkalan Bun.

Mengingat bahwa jembatan tersebut merupakan akses utama dan vital bagi masyarakat, dan hampir tidak bisa dilalui maka warga desa bersama pemerintah desa, Bhabinkamtibmas serta Babinsa bergotong royong membuat jalan darurat di atas badan jembatan yang terendam.

“Untuk kendaraan roda dua masih dapat melalui ruas jalan alternatif tersebut, sementara untuk kendaraan roda empat harus berhati-hati,” imbaunya. (tyo/sla)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *