Begini Protes Warga Terkait Wajib PCR Masuk Kalteng

hasil tes negatif
KEDATANGAN PENUMPANG: Petugas KKP Kelas III Sampit memeriksa dokumen kesehatan kedatangan penumpang di Bandara Haji Asan Sampit, beberapa waktu lalu. (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Sejumlah warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyesalkan kebijakan Pemprov Kalteng terkait aturan wajib menunjukkan hasil tes negatif RT-PCR bagi pelaku perjalanan yang menggunakan pesawat dan kapal.

”Kebijakan ini bikin ngamuk dan emosi masyarakat saja. Harusnya buat SE itu jangan berlaku setelah ditandatangani. Harusnya dua atau satu hari setelah ditandatangani.” keluh Nia, penumpang Wings Air yang tiba dari Surabaya-Sampit, Selasa (29/6).

Bacaan Lainnya

Hal tersebut, lanjutnya, bukan kali pertama dialami masyarakat. Sebelumnya masyarakat dibuat resah dengan kebijakan wajib PCR bagi pelaku perjalanan yang masuk Kalteng. Dia mengaku bukan tak patuh. Sebaliknya, karena dirinya patuh, dia rela merogoh kocek dalam-dalam dan melakukan pemeriksaan ulang.

”Masyarakat mengeluh itu bukan karena tidak patuh aturan pemerintah. Tapi, apakah pemerintah berpikir bagaimana kalau masyarakat yang mau ke Kalteng sudah pesan tiket. Sudah tes antigen dan berangkat pagi, tiba-tiba SE diumumkan malam hari,” ujarnya.

Baca Juga :  WASPADA!!! Jalan Trans-Kalimantan Terendam di Titik Ini

Selain memerlukan biaya empat kali lipat dibandingkan tarif rapid antigen, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali tes RT-PCR berkisar Rp 900 ribu. Tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan mampu memberikan hasil swab dalam beberapa jam.

”Tes swab PCR itu perlu waktu. Bukan seperti rapid tes antigen yang sejam juga bisa,” katanya.

Surat Edaran Gubernur Kalteng terkait wajib PCR itu membuat beberapa maskapai penerbangan ditunda. Nia mengaku terpaksa harus membeli tiket ulang dengan perjalanan transit.

”Pesawat dari Jakarta-Sampit cancel berangkat. Uang bisa dikembalikan meski tidak full. Tetapi, waktu dan tenaga terkuras. Kelabakan mencari tiket baru tujuan Jakarta–Surabaya–Sampit,” ujarnya.

”Ini jelas merugikan penumpang. Bagaimana penumpang yang hari ini harus di Kalteng karena ada urusan yang mendesak dengan tujuan yang baik. Mana bisa simsalabim begitu memutuskan kebijakan,” katanya lagi.

Nia berangkat tak sendirian. Dia bersama saudaranya terpaksa merogoh kocek membeli tiket pesawat dengan total Rp 3.143.100 dan masing-masing tarif PCR per orang sebesar Rp 875 ribu. Belum termasuk tes antigen yang sebelumnya harus mengeluarkan uang ratusan ribu.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *