SAMPIT, radarsampit.com – Rencana perluasan landasan pacu (runway) Bandara Haji Asan Sampit bakal menelan anggaran sekitar Rp60 miliar. Pemkab Kotim telah menyelesaikan pembebasan lahan di jalur landasan.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, sebelum Covid-19 pada 2019 lalu, Kementerian Perhubunag (Kemenhub) pernah menganggarkan peningkatan dan pengembangan Bandara Haji Asan Sampit. Namun, dalam perjalanannya, lahan belum clear, sehingga anggaran yang disiapkan belum bisa terealisasi.
”Begitu saya menjadi Bupati Kotim, saya prioritaskan agar segera diselesaikan pembebasan tanah. Persoalan tanah sudah clear, ternyata kita menghadapi Covid-19. Waktu itu saya berusaha menghadap Menteri Perhubungan RI langsung. Beliau menyampaikan nanti akan dipertimbangkan dan akan diupayakan tahun 2023. Tahun ini sebenarnya,” kata Halikinnor, Senin (20/2).
Kendati demikian, Halikinnor mengatakan, semua kementerian mengalami pengurangan anggaran. Dalam perencanaan tahun 2022, Covid-19 dinilai masih mengancam, sehingga anggaran masih ditujukan untuk penanganan pandemi.
Halikinnor belum bisa memastikan apakah Kemenhub telah menganggarkan untuk perluasan landasan atau belum. ”Sampai saat ini informasi sementara dari Kepala Bandara belum tahu ada atau tidaknya anggaran APBN untuk perluasan landasan, walaupun master plan sudah masuk di Kemenhub. Ada kemungkinan belum teranggarkan,” katanya.
Oleh karena itu, Halikinnor akan berkomunikasi dan menghadap Menhub untuk memastikan anggaran tersebut. Apabila tidak ada kepastian, dia akan koordinasikan dengan DPRD Kotim untuk menggunakan APBD.
”Memang seharusnya pusat yang mengganggarkan pakai APBN, tetapi ini kan kebutuhan kita (Kotim) dan ini memang harus diupayakan karena ini menyangkut fasilitas publik yang sangat vital,” tegasnya.
”Saya khawatir kalau tidak segera mengupayakan perluasan landasan, NAM Air saja tinggal satu pesawat yang beroperasi. Jangan sampai malah berhenti beroperasi, maskapai penerbangan semakin sepi, rute semakin sedikit, layanan di bandara menjadi tidak berfungsi maksimal,” tambahnya.
Halikinnor mengatakan, beberapa waktu yang lalu dirinya menyambut kedatangan direktur PT Smart Cakrawala Aviation yang akan membuka layanan penerbangan jenis pesawat Cessna Caravan untuk melayani rute Sampit-Pangkalanbun-Palangka Raya dengan kapasitas 12 seat.
”Pesawat Cessna mulai beroperasi dan itu kami harapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat. Walaupun hanya melayani rute jalur pendek lintas kabupaten saja, tetapi kami harapkan pesawat Cessna bisa membantu memberikan layanan transportasi udara untuk masyarakat Kotim,” katanya.
Landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit memiliki panjang 2.060 meter dengan lebar 30 meter. Rencananya akan diperluas 500 meter lagi dan lebar akan disesuaikan menjadi 45 meter.
Untuk memperluas landasan pacu di Bandara Haji Asan Sampit, Halikinnor mengestimasikan kebutuhan anggaran mencapai Rp50-60 miliar. Perluasan landasan pacu menjadi prioritas yang sangat penting untuk direalisasikan agar pesawat berbadan besar bisa mendarat, sehingga harga tiket bisa terkendali karena adanya persaingan harga dengan kompetitor maskapai lain.
”Bukan saya mengesampingkan infrastruktur lain. Kami lihat mana yang lebih prioritas. Memang kalau berbicara anggaran kurang terus. Kalau kita tidak segera mengambil kebijakan, berisiko terhadap daerah kita dan akan berpotensi memundurkan prestasi,” ujarnya.
Halikinnor menuturkan, Bandara Haji Asan Sampit merupakan pintu masuk pariwisata dan jalur masuknya investasi. Apabila landasan pacu diperpanjang, pesawat seperti Lion Air dengan kursi lebih banyak bisa masuk.








