Harga Beras Premium di Pasar Tradisional Meroket

harga beras
Pedagang beras di Pasar Cipinang. (Nurul Fitriana/JawaPos.com) 

JAKARTA, radarsampit.com – Pedagang di ritel modern sempat meminta relaksasi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras di tengah kenaikan harga beras premium di pasar tradisional. Instrumen pengendalian harga dalam bentuk HET dinilai menyebabkan harga di ritel menjadi lebih murah karena dipatok sebesar Rp 13.900 per kilogram (kg).

Hal ini disampaikan salah satu pemilik agen beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang mengaku mendapat guyuran beras dari salah satu produsen ritel modern. Adapun imbasnya, kata dia, banyak ritel modern mengalami kehabisan stok beras karena produsen-produsen ritel modern lebih memilih mengucurkan stoknya ke pasar tradisional.

Bacaan Lainnya

“Pemain yang ngisi pasar modern, mal-mal itu sekarang malah jualnya ke sini (PIBC). Karena harganya (beras premium) sudah lebih tinggi di pasar tradisional,” kata pemilik agen beras itu saat ditemui JawaPos.com, Senin (12/2) kemarin.

Dia juga menjelaskan, larinya para produsen ritel ke pasar tradisional karena fluktuasi harga beras yang tidak berpatokan pada HET, melainkan disesuaikan dengan kondisi pasokan beras di petani.

Baca Juga :  Soal Rencana Pemerintah Impor Dua Juta Ton Beras, Ada Kesan Berburu Rente untuk Pembiayaan Politik

Diketahui, harga beras premium di PIBC saat ini tembus Rp 18.000 per kilogram. Harga ini terpantau naik sejalan lurus dengan kenaikan harga gabah dan beras ditingkat petani. Khusus untuk beras premiun, saat ini sudah tembus Rp 16 ribu per kilogram di tingkat petani.

“Kalau pasar tradisional kan istilahnya enggak egitu ngurus HET. Mahal (di petani), jual mahal (di konsumen). Kalau pasar modern harus ngikutin HET, kalau enggak ngikutin, dia (ritel) bisa dicabut izinnya,” jelas dia.

Lebih lanjut, dia juga mengungkapkan bahwa produsen beras di ritel modern sempat meminta relaksasi HET kepada pemerintah. Namun kemudian, hal tersebut tidak digubris.

Akibatnya, kata dia, saat ini para produsen di pasar modern lebih cari untung di pasar tradisional. Sehingga sudah bisa dipastikan, dalam kurun waktu ini mereka tidak akan dulu memasok stoknya ke ritel modern.

“Pokonya pemain-pemain itu (produsen beras pasar modern) udah enggak bakalan ngisi pasar modern untuk saat ini. Karena dari sisi harga lebih menguntungkan di pasar tradisional,” ujarnya.



Pos terkait