Dalam Islam, ada banyak cara menambang pahala. Salah satunya dengan melalukan amal perbuatan baik, seperti membantu sesama agar memperoleh rida Allah SWT.
FAHRY ILHAMI SAMOSIR, Sampit | radarsampit.com
Ratno Susanto dan istrinya Rufiah, tak bosan-bosanya untuk selalu menebarkan kebaikan didunia. Membantu sesama merupakan jalan hidupnya yang mereka pilih untuk beribadah.
Meski memiliki keterbatasan, terutama ekonomi, pasangan suami-istri asal Tangerang ini punya banyak cara untuk merawat dan membesarkan anak-anak yatim piatu dan kaum duafa.
Keduanya menjalani hal tersebut di sebuah rumah kontrakan di Jalan H Anang Santawi, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Sampit.
Rumah yang berdekatan dengan pasar tradisional itu digunakan Ratno dan istrinya sebagai tempat belajar. Sekaligus tempat tinggal bagi anak-anak yatim piatu maupun kaum duafa.
“Kalau gak salah, sejak Bulan Agustus Tahun 2021, rumah ini kami kontrak khusus untuk rumah belajar bagi anak-anak yatim piatu dan kaum duafa,” kata Ratno, Rabu (5/3) lalu.
Sesuai namanya, rumah semi permanen ini dikontrak untuk memberikan bekal pendidikan dan agama kepada anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua maupun duafa.
Dengan bekal yang diberikan sejak dini itu, diharapkan anak-anak tersebut dapat mandiri dan berguna bagi bangsa dan negara kelak nantinya.
Tak kalah penting, mereka juga punya program mulia, yakni memberikan makanan gratis.
”Alhamdulillah, makan gratis ini kami buat setiap hari. Walau hanya seadanya. Hasilnya dari mana, ya dari ketahanan pangan yang kami lakukan sejak dulu,” ujarnya.
Selain menyiapkan makan gratis setiap hari untuk anak yatim, pasangan sejoli ini juga menebarkan kebaikan memberikan makanan gratis untuk masyarakat umum yang memerlukan.
”Biasanya, kalau untuk masyarakat umum itu kami lakukan setiap hari Jumat saja,” katanya.
Ratno sebagai ketua pengurus juga mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya telah menampung dan merawat sedikitnya 106 anak, baik anak yatim piatu maupun anak kaum duafa.
Dia berharap di Bulan Ramadan 1446 Hijriah ini, dapat lebih memotivasi lagi masyarakat lainnya agar selalu menebarkan kebaikan, khususnya kepada sesama.
”Untuk sementara ini kami juga sambil berdagang seperti sendal jepit ataupun cemilan. Uang hasil dagangan itu kami gunakan untuk makanan anak-anak di sini setiap harinya,” kata Ratno.
Rufiah menambahkan, awal mula terbentuknya rumah belajar tersebut karena musibah yang dialami saat di Tangerang tahun 2015 silam. Dia mengalami keguguran hingga gagal dikaruani anak. Dari musibah itulah muncul keinginan untuk menampung anak-anak yatim piatu maupun duafa.
”Saat ini, rumah belajar di Tangerang masih berjalan dan dikelola keluarga kami. Lalu, kami terpanggil datang Kotim untuk membantu anak-anak yatim piatu dan duafa di sini,” ujar Rufiah. (***/ign)








