Keliling Dunia Melintasi Samudra, Kapal Disandera Ketika Bertugas ke Somalia

Lebih Dekat dengan Kepala KSOP Kelas III Sampit yang Baru

Kepala KSOP Kelas III Sampit
SARAT PENGALAMAN: Kepala KSOP Kelas III Sampit saat ditemui di ruangannya. (HENY/RADAR SAMPIT)

RadarSampit.com – Menjalani profesi sebagai seorang pelaut bukanlah pekerjaan mudah. Tak hanya menantang maut, profesi pelaut juga tak selalu berjalan mulus bahkan pernah berada ditengah situasi perang yang mencekam. Hal itu pernah dialami Kepala KSOP Kelas III Sampit Capt Sidrotul Muntaha ketika bertugas ke Negara Somalia.

HENY, SAMPIT

Bacaan Lainnya

Tahun 1990 silam, seorang Mualim 2 yang bertugas di sebuah kapal roro milik negara asing dihadapkan pada suatu masalah. Kapal yang mengangkut penumpang imigran menuju Negara Somalia disandera penumpang.

Tak ada satu pun penumpang yang berani turun ke daratan. Ketika itu situasi pemberontakan terjadi. Konflik perang saudara yang terjadi pada akhir 1980 hingga awal 1990-an membuat penumpang  ketakutan untuk turun. Tetap di kapal atau turun kedaratan dalam situasi yang mengancam nyawa.

Situasi itu dialami Capt Sidrotul Muntaha Kepala Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit saat dirinya tugas berlayar menjelajahi berbagai negara dengan lintasan Negara Saudi Arabia, Mesir, Somalia, Yaman, Eutopia, Laut Merah, dan negara sekitarnya.

Sidrotul bersama awak kapal lainnya mengarungi berbagai negara membawa penumpang dan sejumlah barang. Membawa penumpang dan menurunkannya ketempat tujuan sudah menjadi tugasnya.

”Kapal kami saat itu di sandera sama penumpang itu sendiri. Situasi di daratan sedang tidak aman. Kami tidak bisa tidak menurunkan penumpang, karena harus kembali melanjutkan berlayar. Akhirnya, pihak kapal dan penumpang melakukan negosiasi yang disepakati bersama,” kata Capt Sidrotul Muntaha usai acara pisah sambut di Kantor KSOP Kelas III Sampit, Kamis (23/6).

Sejak hari itu, Kepala KSOP Kelas III Sampit Agustinus Maun resmi pindah tugas menjabat sebagai Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin. Kini, jabatan Kepala KSOP Kelas III digantikan oleh Capt Sidrotul Muntaha.

Baca Juga :  Strategi KSOP Kelas III Sampit Menghadapi Arus Mudik Lebaran 2023

Pengalaman tugas berlayar itu hanya satu dari sekian banyak cerita dan pengalaman yang dibagikan Capt Sidrotul Muntaha kepada Radar Sampit.

Sebelum menjelajah lautan, Sidrotul telah menyelesaikan pendidikan Diploma 3 pada tahun 1990 di Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran Semarang. Selama tujuh tahun, dia bertugas menjadi pelaut menjelajahi berbagai negara.

”Dua tahun saya bekerja di perusahaan kapal milik Negara Arab Saudi. Setelah itu saya pindah tugas berlayar ke perusahaan kapal milik Negara Taiwan dari 1992 sampai 1997. Saat itu saya menjabat sebagai Mualim 1 dengan pelayaran rute China, Hongkong, dan negara sekitarnya,” ujar Sidrotul Muntaha.

Selama tujuh tahun mengarungi lautan, Sidrotul akhirnya pulang ke Tanah Air menjalankan misi melanjutkan pendidikan strata 1 ke Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta dan lulus tahun 1998 meraih ijazah ahli nautika tingkat dua.

Setelah lulus strata 1, Sidrotul mencoba peruntungan melamar menjadi calon pegawai negeri sipil (PNS) dan lulus. Per Agustus 1998, dia resmi menjadi PNS dan mengawali kariernya sebagai dosen pengajar di Politekni Ilmu Pelayaran Semarang.

Menjadi PNS di saat Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1998 penuh tantangan. Gaji yang didapatkan saat itu hanya Rp 200 ribu per bulan. Hal itu jelas menjadi tantangan berat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

”Jadi, PNS zaman Indonesia sedang mengalami krisis itu tidak senyaman zaman sekarang. Gaji masih sangat minim. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari saja pas-pasan,” kenangnya.

Sidrotul mengalami dilema. Profesi pelaut sudah menjadi tekad dalam hatinya. Hingga akhirnya dia diberikan izin untuk mengikuti tugas berlayar selama satu tahun di perusahaan kapal milik Malaysia.

Pos terkait