Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit perlu sentuhan inovasi dan perubahan agar kembali ramai dikunjungi. Impian itu yang kini digantung tinggi para pedagang agar mereka tak kehilangan mata pencaharian.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Lokasi PPM potensial dijadikan area wisata. Berada persis di pinggir Sungai Mentaya. Semua itu dapat terwujud hanya melalui peran dan kerja sama pedagang, serta Pemkab Kotim untuk bersatu mewujudkan konsep pasar wisata.
”Bukan tidak mungkin pasar tradisional bersaing dengan pasar modern. Lokasi PPM ini sangat menjanjikan apabila dikelola dengan baik. Saya yakin PPM akan bangkit dan bisa menarik para pengunjung singgah asalkan didukung pemerintah,” kata Yudi Efrianto, Sekretaris Pengurus Pasar PPM.
Melalui ide yang digagasnya tujuh tahun silam, dia ingin pemerintah mendukung penuh konsep pasar wisata. Yudi mengeker kembali proposal projectnya yang tertumpuk di bawah etalase dagangannya.
Beberapa lembar kertas yang terlihat berdebu, memperlihatkan sejumlah foto pedagang menggunakan perahu atau yang dinamakan pasar terapung seperti di Banjarmasin.
Pada lembar berikutnya, Yudi menunjukkan foto lantai dasar kondisi terkini dan foto lantai dasar yang dipenuhi pigura serta bazar yang menggambarkan suatu event yang menjadi impian semua pedagang PPM.
Yudi juga telah membuat konsep Jalan Iskandar yang berada persis di depan bangunan PPM dapat dimanfaatkan pada malam hari menjadi kafe berkonsep seperti wisata Malioboro di Yogyakarta.
Dia juga menginginkan Pemkab Kotim menggandeng pihak sponsor untuk mengkreasikan setiap sudut dinding bangunan PPM menjadi nilai seni yang dapat menarik pengunjung. Pada lantai tiga, pedagang menginginkan agar bisa dimanfaatkan sebagai tempat wahana permainan, tempat yang menarik swafoto berkonsep taman langit.
”Kami sudah beberapa kali mengadakan diskusi bersama pedagang. Hampir semua pedagang sepakat dan ide itu sudah diusulkan tujuh tahun lalu ke pemerintah daerah, tetapi sampai detik ini belum ada feed back yang diterima pedagang,” ujar pedagang jual-beli dan servis handphone sejak tahun 2004 ini.
Dia mewakili pedagang lainnya menginginkan PPM dipercantik untuk menarik minat masyarakat. Dengan demikian, kawasan itu bisa kembali ramai.
”Sebagus apa pun ide kami, tanpa ada dukungan pemerintah yang punya kapasitas untuk itu, sampai kapan pun akan menjadi mimpi yang tak akan terwujud,” ucapnya, sambil menunjukkan kertas lusuh bertuliskan projek PPM yang diusulkannya kepada Pemkab Kotim tujuh tahun lalu.
”Kami ini seperti ayam kehilangan induknya. Sekalipun rutin berdiskusi, kami akui ide itu hanya membuat kami semangat dalam lingkaran diskusi, tetapi sampai sekarang belum ada langkah untuk ke sana,” tambahnya lagi.
Yudi menuturkan, keinginan pedagang bukan tidak mungkin diwujudkan Pemkab Kotim. Pasalnya, melalui konsep pasar wisata, ada dampak luar biasa yang bisa dirasakan.
”Konsep ini sudah matang. Tinggal pemerintah yang menentukan. Mau dijadikan apa PPM ke depan? Kalau memang pemerintah menganggap keterbatasan anggaran, ya tidak masalah dipihakketigakan atau merangkul sponsor,” ujarnya.
Menurutnya, perlu koordinasi intens antara Pemkab Kotim, pedagang, dan pengurus PPM untuk menata terus perubahan PPM agar kembali ramai menarik pengunjung.
”Kami sangat perlu koordinasi dan dukungan pemerintah. Kami hanya ingin pemerintah menyediakan wadah semacam event organizer yang melibatkan pedagang, sponsor, membentuk tim yang tugasnya mempromosikan, dan membuat event rutin seperti bazar. Mereka yang terlibat itu pastinya perlu dibayar, karena menghabiskan waktunya mempromosikan PPM,” tambahnya.








