PANAS!!! Kuat-kuatan Massa Lahan Sengketa, Potensi Konflik Berebut Sawit

ambil alih kebun sawit
UPAYA PAKSA: Sejumlah orang melakukan upaya paksa menduduki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 700 hektare di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu. (IST/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Perebutan lahan kelapa sawit antara Hok Kim dan Alpin Laurence cs di Desa Pelantaran, Kecamatan Cempaga Hulu, berisiko tinggi. Situasi tersebut rawan memicu pertikaian antarkelompok masyarakat yang pro pada masing-masing kubu. Keduanya sama-sama menggunakan massa dalam jumlah besar untuk menduduki lahan tersebut.

Pada Rabu (8/2) malam, pihak Hok Kim menurunkan massa menduduki lahan itu secara paksa. Hal itu dilakukan karena mereka selama ini mengaku sudah cukup mengalah.

Bacaan Lainnya

Pihaknya telah melaporkan aksi perampasan kebun yang dikelola sejak lama itu kepada aparat kepolisian. Namun, belum ada tindak lanjut, sehingga mereka menempuh cara paksa untuk mengusir kelompok masyarakat yang selama ini menguasai dan memanen kebun seluas 700 hektare itu.

Saat pendudukan lahan berlangsung, Polres Kotim menurunkan pasukan pengamanan di lokasi tersebut saat pendudukan lahan berlangsung guna menghindari bentrok antarkelompok.

Pihak Hok Kim melalui kuasa hukumnya Hilda Handayani dan Benny mengatakan, lahan itu mereka kuasai kembali. Saat lahan direbut, tak terjadi kontak fisik dengan pihak yang selama empat bulan ini menduduki kebun kliennya. ”Semuanya aman saja,” ujar Hilda.

Baca Juga :  Curiga Dugaan Permainan Anggaran di DPRD Kotim Sudah Berlangsung Lama

Hilda memastikan lokasi itu aman. Namun, jika ada pihak lain yang keberatan dengan penguasan kebun yang menimbulkan kontak fisik, maka itu bukan tanggung jawab pihaknya. ”Masalah ini juga sudah kami koordinasikan dengan aparat kepolisian,” kata Hilda.

Catatan Radar Sampit, penyelesaian sengketa tersebut berlarut-larut. Beberapa kali mediasi yang dilakukan dengan difasilitasi lembaga adat, gagal menyelesaikan konflik. Dua pihak masih sama-sama ngotot terkait kepemilihan lahan.

Pada 28 Juli 2022 lalu, persoalan tersebut meruncing. Nyaris terjadi bentrok fisik di lapangan antara massa Hok Kim dan Alpin. Hok Kim keberatan atas tindakan Alpin yang mengerahkan sejumlah orang untuk menghentikan aktivitas di areal kebun.

Akibat hal tersebut, aktivitas di lapangan terhenti selama tiga hari. Selain menghentikan aktivitas, mereka juga menahan sepeda motor, truk, bermuatan sawit, alat berat, dan menguasai mes karyawan.



Pos terkait