Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak serta merta membuat Indonesia terlepas dari belenggu penjajah. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Belanda memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali berkuasa. Sejarah mencatat perjuangan masyarakat Sukamara mempertahankan kemerdekaan tersebut. Berikut rangkumannya berdasarkan buku Sejarah Sukamara yang diterbitkan pada 2016.
FAUZIANNUR, Sukamara
Merdekanya Republik Indonesia baru didengar masyarakat Sukamara pada Oktober 1945. Kabar itu disambut sukacita masyarakat setempat. Bendera Merah Putih pun mulai berkibar di Sukamara pada tanggal 25 Oktober 1945.
Suasana siap mempertahankan kemerdekaan menyelimuti masyarakat Sukamara. Mereka juga siap berperang hingga titik darah penghabisan. Gerakan itu mendapat perhatian dari Belanda yang ingin merebut wilayah Kalimantan, termasuk Sukamara. Pertempuran dahsyat tercatat terjadi dua kali.
Pertempuran pertama pecah pada Jumat, 25 Januari 1946, di tepian Sungai Jelai. Pasukan NICA menggunakan senjata modern, sedangkan tentara Republik Indonesia dan rakyat Sukamara bersenjatakan dum-duman, sumpit damak beracun, dan senjata ala kadarnya.
Kendati tidak seimbang, perjuangan rakyat berhasil menewaskan pasukan NICA. Banyaknya tentara yang tewas, membuat Belanda semakin membabi buta dan beringas menembakkan senjata otomatis. Di sisi lain, pasukan rakyat Sukamara kehabisan peluru dum-duman dan damak sumpitan.
Melihat situasi itu, pimpinan Angkatan Muda ketika itu, Iskandar, memberi komando agar pasukan mundur ke hutan dan benteng pertahanan di daratan yang dijaga Makmur Jalil.
Dalam pertempuran tersebut, Nazir Adam dan Mail Ahmad gugur. Mereka tewas saat berada di galangan perahu tepi sungai dan tidak mau menyingkir saat berondongan senjata tentara Belanda tengah membabi buta.
Selain itu, beberapa di antaranya juga terkena tembakan, seperti Tindih pada punggung, Syamsul Bahri di pergelangan tangan, dan Gusti Kader di kaki belakang, hingga akhirnya meninggal dunia.
Pasukan Belanda lalu merapat ke daratan Sukamara sambil memberondong tembakan. Setibanya di daratan, pasukan kolonial ini membakar rumah warga. Jumlah rumah yang hangus tercatat 70 unit.
Seluruh rumah menjadi arang, terkecuali masjid Al-Aqsa yang dibiarkan Belanda. Setelah membumihanguskan kampung Sukamara, sorenya pasukan NICA meninggalkan Sukamara dan membawa penghulu bernama H Bakri ke arah Kuala Jelai.
Dalam perjalanan menuju Kuala Jelai, pihak Belanda sempat singgah di Kepala Pulau Panjang untuk menguburkan salah satu korban dari pihak mereka, yakni Letnan Rode Kruis.
Gerakan dan serangan pasukan Belanda ke Sukamara itu memantik simpati dan solidaritas perjuangan Tentara Republik di Pangkalan Bun, Kuala Jelai, Teluk Bogam, dan wilayah lainnya.
Sejak Januari 1946, terjadi pergerakan dan konsolidasi pasukan ke wilayah Sukamara. Gerakan mempersiapkan diri yang lebih baik dari pasukan RI itu dikendalikan Gubernur Kalimantan Tengah saat itu, Mohammad Noor. Gerakan tersebut dikenal dengan nama sandi Ekspedisi MN 1001. (bersambung/gus)








