Radarsampit.com – Pengamat otomotif Ridwan Hanif menyoroti kebijakan relaksasi pajak kendaraan bermotor yang dinilainya perlu diarahkan lebih tepat sasaran.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Ridwan menegaskan bahwa mobil jenis double cabin 4×4 seharusnya mendapat prioritas relaksasi pajak dibandingkan kendaraan lain.
Menurut Ridwan, mobil jenis tersebut memiliki urgensi tinggi, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek kemanusiaan dan penanggulangan bencana, terutama di negara dengan kondisi geografis rawan seperti Indonesia.
“Mobil-mobil macam inilah yang menurut saya harusnya dapat relaksasi pajak prioritas. Selain berguna untuk UMKM seperti di Thailand, mobil ini juga dibutuhkan di negara yang kondisi geografisnya rawan bencana,” tulis Ridwan dalam unggahannya.
Youtuber Otomotif ini juga mengakui bahwa kendaraan listrik (EV) maupun mobil Low Cost Green Car (LCGC) memiliki nilai positif dan peran penting dalam sektor otomotif nasional. Namun, Ridwan menilai tingkat urgensi mobil double cabin berpenggerak empat roda jauh lebih tinggi.
“EV memang bagus, LCGC juga bagus. Tapi tingkat urgensinya lebih tinggi double cabin 4×4. Bukan cuma nilai ekonomisnya saja, tapi mobil-mobil seperti ini bisa menyelamatkan nyawa satu desa ketika bencana,” lanjutnya.
Ridwan mencontohkan peran strategis mobil double cabin 4×4 yang kerap digunakan dalam distribusi logistik, evakuasi korban, hingga menjangkau daerah terpencil yang sulit diakses kendaraan biasa saat terjadi bencana alam.
Di akhir unggahannya, Ridwan berharap pandangannya dapat menjadi perhatian para pengambil kebijakan di Tanah Air. “Semoga menjadi perhatian bapak-bapak pejabat,” tulisnya.
Pernyataan Ridwan Hanif tersebut menuai beragam respons dari warganet. Sebagian mendukung gagasan agar kebijakan relaksasi pajak lebih berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat dan kondisi geografis Indonesia, bukan semata tren kendaraan ramah lingkungan.







