Salip F9, Black Widow Rajai Box Office

black widow

LOS ANGELES – Black Widow memang tak memiliki kekuatan super sebagaimana Thor atau Captain America. Namun, film solonya berhasil memecahkan rekor box office Amerika Utara. Black Widow berhasil membukukan total USD 80 juta (Rp 1,16 triliun) di akhir pekan pertama penayangannya. Di hari pertama rilisnya pada 9 Juli, film itu mengumpulkan USD 39,5 juta (Rp 572,8 miliar).

Film yang dibintangi Scarlett Johansson dan Florence Pugh itu berhasil menggeser F9. Bulan lalu, instalasi teranyar Fast and Furious itu berhasil meraup pendapatan akhir pekan perdana setinggi USD 70 juta (Rp 1,015 triliun). Di hari pertama tayang, F9 memimpin USD 10,4 juta (Rp 150,8 miliar) atau hanya sepertiga dari pendapatan hari perdana Black Widow.

Proyek terbaru Marvel Studios itu pun langsung menjadi standar baru box office era pandemi. Black Widow memiliki pendapatan premiere serta akhir pekan pembuka terbaik sejak rilis Star Wars: The Rise of Skywalker pada akhir tahun 2019. Hingga kemarin (12/7), film besutan Cate Shortland itu tercatat meraih USD 78,8 juta (Rp 1,143 triliun) dari penayangan di 46 negara. Jika ditotal, Black Widow telah mengumpulkan pendapatan global USD 158,8 juta (Rp 2,303 triliun) sejak ditayangkan pada pekan lalu.

Baca Juga :  Sineas Indonesia Toreh Prestasi Sekeren Ini

Black Widow pun mencetak pendapatan tak sedikit dari Disney+. Mengutip data yang dirilis Disney pada akhir pekan lalu, film itu berhasil mengumpulkan USD 60 juta (Rp 870,2 miliar) dari layanan streaming. Di beberapa negara, film tersebut dirilis bersamaan di Disney+ dengan sistem Premiere Access.

Pelanggan yang ingin menyaksikan film pembuka Phase 4 jagad film Marvel tersebut harus membayar ekstra USD 30 (Rp 435 ribu). Meski demikian, Disney maupun Marvel Studios belum mengungkap total jumlah pengakses Black Widow di layanan streaming eksklusif mereka.

Meski demikian, Black Widow belum layak disebut sebagai tolok ukur kebangkitan industri hiburan. Film tersebut hanya titik awal. Dalam laporan tahunan PricewaterhouseCoopers (PwC) pada Minggu (11/7), penghasilan industri hiburan dan media global terjun bebas. Tahun lalu, total pendapatan “hanya” USD 2 triliun (Rp 29.006 triliun). Angka itu turun 3,8 persen dari tahun sebelumnya dan dinilai sebagai penurunan year-on-year paling signifikan di sepanjang sejarah.



Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *