Sosok Teladan Taufiq Mukri dan Senyuman Kepergian Sosok Humoris

PEMAKAMAN-TAUFIQ-MUKRI
PEMAKAMAN: Prosesi pemakaman almarhum Taufiq Mukri diantar ratusan orang yang mengagumi sosoknya selama hidup, Minggu (15/5). (YUNI PRATIWI ISKANDAR/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Sepuluh tahun lamanya Taufiq Mukri mendampingi Supian Hadi memimpin Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kepergian Taufiq Mukri, jadi duka mendalam bagi Supian yang paham betul sosok dan keteladanannya. Pemikiran dan kepiawaian Taufiq, jadi salah satu kunci suksesnya pembangunan Kotim.

”Beliau adalah birokrat yang andal, yang mengerti, sangat mengerti semua tata cara pemerintahan. Saya seorang politikus yang menjalankan beberapa kebijakan, pengawasan yang dilakukan Taufiq Mukri selama menjabat sangat luar biasa. Saya pribadi sangat kehilangan sekali. Saya juga minta maaf kepada keluarga, karena karena datang terlambat,” ujar Supian yang datang masih mengenakan baju trail, karena saat mengetahui kabar duka itu, dia sedang berada di Tumbang Gagu.

Bacaan Lainnya

Supian mengaku baru tahu kepergian koleganya itu dari warga yang membuka warung. ”Saya kaget. Ya sudahlah, kalau begitu kami lepas sepeda motor. Kami titip di sana. Kami pakai mobil dengan waktu yang sangat singkat. Normalnya lima jam, kami tempuh tidak sampai tiga jam untuk mengejar ke sini (pemakaman, Red). Walaupun saya ingin sekali melihat untuk yang terakhir kalinya, tapi tidak sempat,” ujar Supian tak kuasa menahan kesedihan kehilangan orang yang sangat berjasa baginya.

Sambil berlinang air mata, Supian mengaku ingin bertemu dengan almarhum. Bahkan, malam sebelum Taufiq meninggal, Supian sempat menanyakan kabar almarhum pada sopirnya.

”Yang kami ceritakan malam itu hanya tentang almarhum. Saya ingin ke Jakarta. Ingin menengok beliau,” ujarnya.

Bagi Supian Hadi, almarhum bukan hanya menjadi sosok wakil bupati. Taufiq kala itu bisa menempatkan diri sebagai orang tua, keluarga, dan sahabat dekat.

”Saat mendapatkan masalah, secara pribadi beliau sering memberikan nasihat kepada saya. Salut kepada beliau karena bisa memosisikan diri sebagai wakil bupati dan ayah. Saya pun demikian,” tuturnya.

Menurut Supian, perjalanan selama sepuluh tahun bersama Taufiq Mukri merupakan waktu yang sangat lama. Mereka bisa menjalin kerja sama yang sangat kompak dalam membangun daerah.

”Sepuluh tahun itu sangat lama. Bahkan lebih lama dari saya berumah tangga. Saya berumah tangga belum pernah sampai sepuluh tahun. Selama itu tidak pernah terjadi masalah apa-apa,” ujarnya.

Rekan sekaligus pasangan politik Taufiq Mukri saat pilkada 2020, Supriadi, mengungkapkan, almarhum memiliki kepribadian yang ramah, lemah lembut, dan tidak suka berdebat.

”Almarhum mengutamakan sifat yang mengayomi, rendah hati, dan humoris. Siapa yang tidak kenal dengan selemar humor beliau yang kerap mencairkan suasana?” ujar Supriadi.

Dalam politik, lanjut Supriadi, Taufiq selalu menyatakan sikap yang mendinginkan suasana tensi politik. ”Beliau santun, bersahaja, dan beretika,” ujarnya.

Keteladanan Taufiq tak berhenti di usia senjanya. Bahkan, ketika dia menderita sakit. Hal tersebut diungkap menantu Taufiq Mukri, Boy Hamzah Notonegoro, suami Rina Amalia.

Menurut Boy, selama bulan puasa lalu, Taufiq tetap menjalani ibadah puasa sebulan penuh meski kondisi kesehatannya tak begitu baik. ”Meskipun dalam kondisi stroke, beliau tetap mampu berpuasa 30 hari penuh dan mau berpuasa sunnah,” ujarnya.

”Abah (alm Taufiq, Red) itu senang guyon. Meninggal pun dengan wajah tersenyum, seperti tidak ada beban,” tambah Boy.

Boy mengenang ketika mertuanya itu masih aktif menjabat sebagai Wakil Bupati Kotim yang selalu ramah kepada semua kalangan. ”Saya melihat sendiri ketika datang ke Sampit. Beliau baik kepada siapa saja. Rumahnya selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan dan berkeluh kesah 24 jam. Tanpa protokol dari Satpol PP atau ajudannya. Berbeda dengan pejabat lain,” ujarnya.

Pos terkait