Susahnya Beli BBM Di Lamandau

Pertalite Langka Di Pengecer, Antrean Panjang Terjadi Di SPBU dan APMS

NANGA BULIK, RadarSampit.com – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite mulai langka Kota Nanga Bulik dan sekitarnya dalam tiga hari terakhir. Hampir seluruh kios BBM eceran di dalam kota hingga pinggiran terlihat kosong.

“Saya sampai keliling cari yang jual minyak, kosong semua. Ujung-ujungnya dorong motor. Akhirnya ada yang jual harganya Rp 14 ribu seliter, itupun cuma kebagian 2 liter stok terakhir,” keluh Puput, salah satu warga Nanga Bulik, Selasa (13/9).

Bacaan Lainnya

Sementara itu pantauan di APMS Talenta Jalan Tjilik Riwut, Kabupaten Lamandau, antrean panjang kendaraan terlihat mengular sepanjang 300 meter lebih. Namun tidak terlihat lagi para pelangsir yang biasa membawa galon atau jerigen.

Menanggapi keluhan itu Pemkab Lamandau lengsung menggelar rapat mendadak di Aula Setda. Rapat dipimpin Assisten Administrasi Umum Setda Lamandau Norita Indayanie dan Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lamandau, Penyang.

Baca Juga :  Meriahnya Jalan Sehat DPD Partai Golkar Lamandau

“Rapat ini untuk membahas kabar kelangkaan BBM. Ternyata Pasokan BBM mencukupi bahkan sangat tersedia di SPBU, APMS maupun di Pertashop,” ungkap Kepala DKUKMPP, Penyang.

Kelangkaan Pertalite hanya terjadi di eceran saja akibat seluruh SPBU kini tidak lagi melayani penjualan BBM bersubsidi dalam jumlah besar kepada para pelangsir. Namun untuk BBM non subsidi tidak ada pembatasan.

“Sehingga sekarang sudah tidak boleh melangsir lagi. Akibatnya terjadi kelangkaan di tingkat pengecer,” ucapnya.

Untuk itu ia mengimbau kepada masyarakat agar membeli BBM bersubsidi langsung ke SPBU, APMS, dan Pertashop. Walaupun diakui saat ini stasiun pengisian BBM masih belum ada di dalam kota dan hanya ada di pinggiran Kota Nanga Bulik. Disamping itu juga hanya kendaraan roda 2 sampai dengan 200 cc dan roda 4 sampai dengan  1400 cc yang boleh pakai pertalite dan solar. Selebihnya harus pakai BBM non subsidi.

Sementara itu, untuk penggunaan aplikasi Mypertamina hingga saat ini masih sulit diterapkan di wilayah Kabupaten Lamandau karena kendala jaringan internet.

Pos terkait