Uang Petani Raib, Direktur BUMDes Hilang! Dugaan Penipuan Gabah Menggemparkan Lampuyang

uang ilustrasi
ilustrasi

Radarsampit.com – Warga Desa Lampuyang geger dengan dugaan penggelapan uang penjualan gabah yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

AM, Direktur BUMDes Lampuyang yang selama ini dipercaya mengelola bisnis gabah petani, diduga melarikan diri setelah membawa kabur uang hasil penjualan ke Bulog.

Bacaan Lainnya

Di balik tumpukan karung gabah yang selama ini menjadi sumber penghidupan, tersimpan luka bagi para petani. Uang hasil jerih payah mereka raib, sementara sosok yang seharusnya bertanggung jawab justru menghilang tanpa jejak.

Awalnya, kerja sama BUMDes dengan petani berjalan lancar. Para petani menyerahkan gabah untuk dibeli dan dikelola BUMDes, kemudian dijual dalam bentuk gabah kering ke Bulog. Tiga kali transaksi sebelumnya, seluruh pembayaran diterima petani tanpa masalah.

Namun situasi berubah drastis ketika pembayaran tahap pertama pada 26 Agustus dan tahap kedua pada 9 Oktober 2025 tak kunjung diterima. AM, yang seharusnya menyalurkan uang hasil penjualan, tidak memberikan kejelasan. Diduga, total uang yang dibawa kabur mencapai sekitar Rp800 juta.

Ketua BPD Lampuyang, Sahamudin, mengungkapkan kronologi awal kecurigaan. Ia mencoba menghubungi pihak Bulog tetapi tak mendapat respons. Merasa ada yang janggal, ia mendatangi langsung kantor Bulog pada 23 Oktober 2025.

“Pihak Bulog menjelaskan bahwa penjualan tahap pertama sudah ditransfer ke AM sebesar Rp311 juta dan tahap kedua Rp318 juta,” ujar Sahamudin, Senin (10/11).

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa AM sengaja menahan atau menggelapkan uang pembayaran dari Bulog. Hingga kini, AM tidak dapat dihubungi dan diduga kuat melarikan diri.

Warga berharap kasus ini segera ditangani aparat penegak hukum, karena ratusan petani kini terancam mengalami kerugian besar akibat dugaan penggelapan tersebut.

Belakangan terungkap, bukan hanya petani yang dirugikan. Bulog pun kehilangan sekitar Rp200 juta karena beras yang diserahkan jauh dari jumlah seharusnya.

”Seharusnya Bulog menerima 48.923 kilogram beras. Namun, yang diserahkan hanya 9 ton. Setelah saya konfirmasi ke pabrik penggilingan, AM membawa beras malam-malam pakai pikap. Diduga dijual ke pasar. Tak mungkin Bulog ambil beras malam-malam. Jadi ada sekitar 15 ton beras yang belum disetor,” jelasnya.

Selain itu, upah penggilingan gabah petani juga belum dibayar. Tahap pertama sebesar Rp27 juta, tahap kedua Rp3,5 juta, dan tahap ketiga Rp5 juta.

”Ditotal keseluruhan sekitar Rp800 juta. Dia juga membawa kabur uang BUMDes hasil penyertaan modal tahun 2024 sebesar Rp50 juta dan tahun 2025 sebesar Rp100 juta yang belum dikembalikan,” katanya.

Sahamudin berusaha mencari AM ke berbagai tempat. Dia mendatangi rumah keluarganya di Desa Lampuyang, Desa Kuin, hingga ke Kota Sampit. Hasilnya nihil.

”Sudah ke mana-mana saya mencari AM ke rumah keluarganya, saudaranya, dan istrinya, tapi tak ada yang tahu keberadaannya,” ujarnya.

Laporan resmi akhirnya dibuat ke Polsek Jaya Karya pada 23 Oktober 2025 pukul 15.14 WIB.

”Sebenarnya saya ingin menahan diri tidak melapor, tetapi setelah tahu tidak ada kejelasan dan nomor AM tidak aktif sejak 21 Oktober, sepulang dari Bulog saya langsung lapor ke polisi,” kata Sahamudin.

Pencarian juga dilakukan Saidun, Ketua Koperasi Merah Putih Desa Jaya Karet Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. hasilnya sama.

”Sudah kami cari ke mana-mana, tapi belum ditemukan. Kami berharap ada niat baik pelaku untuk menyelesaikan secara kekeluargaan,” ujarnya.

Kepala Desa Lampuyang, Muksin, membenarkan kejadian itu. “Yang bersangkutan sudah dicari keberadaannya, namun sampai sekarang belum ditemukan,” ucapnya.

Pos terkait