Ada Apa Ini? Jerit Tangis Bersahutan di Rumah Jabatan Bupati Kotim

Sunatan Massal Ratusan Anak

Sunatan Massal
SUNATAN MASSAL: Layanan sunatan massal yang digelar Bupati Kotim Halikinnor di rumah jabatannya, Senin (24/6/2024). (HENY/RADAR SAMPIT)

Bupati Kotim Halikinnor memfasilitasi anak-anak, terutama SD se-Kabupaten Kotawaringin Timur mendapatkan layanan sunatan gratis. Beragam reaksi unik diperlihatkan generasi penerus bangsa itu saat menjalani proses khitan.

HENY, Sampit | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

Ruangan aula rumah jabatan (rujab) Bupati Kotim di Jalan Jenderal Ahmad Yani mendadak ramai dipenuhi anak-anak laki-laki.
Beralaskan karpet dan dilapisi alas kain untuk rebahan, lengkap dengan bantal yang diperkirakan sekitar 20 titik, memenuhi seisi ruangan aula Rujab. Puluhan tenaga kesehatan perawat dan dokter tampak siap melaksanakan tugasnya.

Satu pasien ditangani dua perawat, yang kebanyakan perawat pria. Ada pula perawat wanita yang menjalankan tugasnya.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB pagi itu, membuat jantung pasien berdegup kencang. Menangani ratusan pasien laki-laki dengan rentang usia 5-15 tahun cukup merepotkan petugas.

Sebagian besar pasien anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) memberanikan diri disunat didampingi orang tuanya masing-masing. Ada pula satu pasien berusia 30 tahun baru memutuskan dikhitan.

Baca Juga :  Semoga Amanah, Masa Jabatan 162 Kades di Kotim Diperpanjang jadi Delapan Tahun

Usia peserta yang sebagian besar masih sangat belia, membuat mereka maju mundur disunat. Ada yang kabur, ada yang menyangkutkan badannya ke pintu, sampai harus digendong orang tuanya ke titik pelayanan yang disediakan.

”Menyunat pasien itu sebenarnya sebentar saja. 10-15 menit selesai. Yang bikin lama itu kalau anaknya menangis rewel dan kakinya bergerak kesana-kemari ingin kabur. Itu yang bikin kami kadang kewalahan,” kata Agus Saputra, perawat Puskesmas Ketapang II. Dia ikut bertugas menyunat pasien yang terus saja menangis.

Rata-rata pasien anak-anak yang disunat datang berurai air mata. Isak tangis tak berhenti. Bahkan, belum disunat saja anak-anak sudah kepalang takut membayangkan sakitnya disunat.

Dengan berbagai cara dan rayuan penuh kasih sayang para perawat berusaha menenangkan pasien. Sesekali perawat mengajak pasien bercanda agar tak terlalu tegang.



Pos terkait