Bangun Jembatan Gantung Dengan Dana Desa

Bangun Jembatan Gantung Dengan Dana Desa
JEMBATAN GANTUNG: Jembatan Titian Laman di Desa Sekoban, Kecamatan Lamandau, Kabupaten Lamandau jadi daya tarik wisata dan pembuka keterisoliran wilayah. (RIA MEKAR/RADAR SAMPIT)

NANGA BULIK – Sebuah jembatan gantung cantik dengan lampu warna-warni melintang di atas Sungai Lamandau. Jembatan itu menghubungkan dua kawasan di salah satu desa di pedalaman Kabupaten Lamandau.

Desa Sekoban, Kecamatan Lamandau, Kabupaten Lamandau dulunya merupakan desa tertinggal. Karena desa ini berada cukup jauh dari ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten.

Dari kota Nanga Bulik butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke desa ini dengan melewati jalan tanah dan jalan perusahaan. Akses jalan yang sulit membuat warga desa kesulitan melakukan perjalanan antar desa.

Namun kini wajah desa tersebut telah berubah. Jembatan gantung berkonstruksi besi dan kayu ulin menjadi ikon desa pedalaman itu.

Saat malam hari, lampu warna – warni jembatan menjadi hiburan warga. Jajaran lampu hias itu terlihat sangat kontras dengan gelap dan sunyinya hutan belantara yang mengepung desa tersebut. Kini Desa Sekoban juga menjadi salah satu desa tujuan wisata yang wajib dikunjungi.

Pembangunan jembatan kebanggan warga desa itu dimulai tahun 2018 dengan menggunakan Dana Desa. Jembatan ini baru selesai dibangun serta diresmikan Bupati Lamandau pada tahun 2019 lalu.

Baca Juga :  Jamin Keamanan Pangan Seruyan

Jembatan gantung yang dinamai “Titian Laman” tersebut menjadi urat nadi pergerakan masyarakat Sekoban dengan desa-desa sekitar seperti Samu Jaya dan ibukota Kecamatan Lamandau, Kelurahan Tapin Bini.

“Sebelum ada jembatan harus keliling lewat perusahaan sekitar 1,5 jam. Tapi kini hanya perlu 10 menit saja ke Tapin Bini dan Samu Jaya,” ucap Udara, Kepala Desa Sekoban.

Jembatan tersebut telah memudahkan masyarakat untuk mengangkut hasil bumi, membantu warga yang berangkat kerja ke seberang, maupun anak-anak yang bersekolah di ibu kota kecamatan.

“Jumlah penduduk di desa ini hanya 160 Kepala Keluarga dengan mayoritas merupakan peladang, berkebun sawit dan bekerja di perusahaan. Meski hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan roda tiga, akses jembatan ini sudah sangat membantu masyarakat,” ungkap Kades.

Udara juga menyebut bahwa pada tahun 2021 lalu, pemerintah desa menganggarkan hiasan jembatan tersebut dengan lampu warna-warni. Beberapa lokasi swa foto juga dibangun di samping jembatan.

Pos terkait