Benang Kusut Cabor Sepak Bola Porprov Kalteng 2023

Laga Final Terpaksa Ditunda, Saling Tuding Libatkan Pemain Luar 

sepak bola porprov kalteng
IKUT MENYEMANGATI: Bupati Kotim Halikinnor memberikan semangat kepada pemain sepak bola Kotim di lapangan sepak bola Stadion 29 November, Jumat (4/8/2023). (DANNY ACHMAD/RADAR SAMPIT)  

SAMPIT, radarsampit.com – Laga puncak sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah XII antara tim Kotim melawan Sukamara di Stadion 29 November, Sampit, Jumat (4/8), terpaksa ditunda. Penonton yang sudah lama menunggu dibuat kecewa. Benang kusut mewarnai laga pamungkas setelah terjadi aksi saling tuding melibatkan pemain luar.

Polemik tersebut sudah terlihat sejak pertandingan semifinal antara Palangka Raya vs Sukamara, Kamis (3/8) sore. Perselisihan yang memicu keributan terjadi. Tim Sukamara dinilai tidak sportif saat pertandingan.

Bacaan Lainnya

Ketua Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Palangka Raya Fathul Munir mengajukan protes keras terkait pemain yang tidak sah dari tim Sukamara. Sukamara dinilai melibatkan pemain dari Semarang.

Berdasarkan surat Askot PSSI Kota Palangka Raya yang ditujukan kepada Panitia Porprov Kalteng dan Komisi Disiplin dan Verifikasi Cabor Sepak Bola, menyampaikan protes terhadap penggunaan tiga pemain yang bukan atlet lokal Kalteng. Hal tersebut dinilai tidak sesuai aturan yang disepakati bersama.

Ketiga pemain itu, yakni Egi Candra Erlangga Putra asal Pekalongan, Muhammad Faddil Rizki Darmawan asal Semarang, dan Arfan Arsa Putra asal pemain Mahesa Jenar Muda. Mereka diminta tidak diperbolehkan mengikuti pertandingan selanjutnya.

”Sampai hari ini tidak ada jawaban dari komdis terkait protes kami. Saya sudah protes keras. Saya akan protes resmi  ke Gubernur, media, serta PSSI Pusat. Saya imbau Kabupaten Kapuas harus ikut protes, karena kemarin  mereka juga menurunkan pemain tidak sah ketika mengalahkan Kapuas. Harusnya kalau pihak Kapuas protes dan terbukti, maka yang main adalah Kapuas dan otomatis Sukamara gugur,” demikian isi pesan Askot PSSI Palangka Raya yang menyebar secara berantai di WhastApp.

Baca Juga :  Kapolda Perintahkan Sikat Mafia Tanah

Menanggapi hal itu, Pelatih Tim Sukamara Agus Triyanto tak menyangkal pihaknya memang membawa pemain luar Kalteng. Akan tetapi, mereka statusnya sudah bekerja di Sukamara dan saat diverifikasi memang tidak disetujui.

”Dari panitia pelaksana meminta buat surat sanggah, lalu kami mengajukan bukti SK kerja dan slip gaji. Lalu, tanggapan dari panpel, dari 10 pemain luar itu, ada 8 yang lolos dan hanya tiga pemain luar saja yang ikut tanding,” kata Agus kepada Radar Sampit di pinggir lapangan Sepak Bola Stadion 29 November.

Agus legawa apabila memang Kotim ditetapkan sebagai juara 1 akibat kejadian tersebut. ”Kalau Kotim juara I, saya legawa, walaupun masih sesak di hati. Kalau selesai pertandingan final berlangsung, kami konfirmasi, kami didiskualifikasi, kami gak mau sebenarnya. Tim Kotim pun keberatan final dengan tim Palangka Raya, karena harusnya Kotim tanding dengan Sukamara. Kalau sampai Palangka Raya naik juara 2, aneh juga. Kalau Sukamara didiskualifikasi, okelah, tetapi Sukamara juga berhak menuntut dan sudah mengajukan protes balik ke komdis panitia keabsahan agar tim Palangka Raya juga didiskualifikasi, karena harusnya juara dua itu Sukamara,”  ucapnya dengan nada kecewa.

Agus juga menuding Palangka Raya melibatkan pemain luar Kalteng. ”Tim sepak bola Palangka Raya juga banyak dari pemain luar. Ada sebelas orang. Sebenarnya, kalau mau protes, Bartim juga kecewa. Saat tanding dengan Palangka Raya mereka melibatkan pemain dari luar. Ini ada dalangnya yang bikin kisruh,” ujarnya.

Kekecewaan juga disampaikan sebagian besar masyarakat yang datang dan ingin menyaksikan laga pamungkas. Mereka akhirnya memilih pulang. ”Kecewa, sudah menunggu berjam-jam, sekalinya tidak jadi bertanding. Mending pulang saja,” ujar Sony, seorang warga Sampit.

Pos terkait